JAKARTAHYPE.COM - Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) terus menunjukkan tren peningkatan signifikan di berbagai sektor. Peran AI sangat krusial dalam upaya mendongkrak efisiensi operasional, meningkatkan produktivitas, serta mendorong inovasi bisnis secara keseluruhan.

Namun, di tengah optimisme tersebut, terdapat hambatan substansial yang dihadapi perusahaan dalam mengintegrasikan AI ke dalam lini bisnis mereka. Mulia Dewi Karnadi, selaku Presiden Direktur Ingram Micro Indonesia, menggarisbawahi kompleksitas awal dalam proses adopsi teknologi canggih ini.

Hal ini terungkap saat Mulia Dewi Karnadi berbicara dalam acara Tech and Telco Forum yang bertajuk "Building a Safer Digital Nation: From Connectivity to Cyber Resilience" pada hari Rabu, 6 Mei 2026. Forum tersebut menjadi wadah pembahasan mengenai peran AI di era digital saat ini.

Mulia Dewi Karnadi menjelaskan bahwa banyak perusahaan mengalami kebimbangan saat akan memulai implementasi AI dalam operasional harian mereka. "Banyak perusahaan waktu mengadopsi AI itu bingung, saya harus mulai dari mana, apa yang harus saya jalankan," ungkap dia.

Untuk mengatasi kebingungan awal tersebut, Mulia menyarankan perusahaan untuk melakukan langkah evaluasi mendalam sebelum melangkah lebih jauh. Langkah ini dikenal sebagai AI maturity test sebagai penentu arah implementasi teknologi.

Setelah melalui proses pengujian kematangan AI tersebut, perusahaan disebut dapat lebih memahami secara spesifik aspek apa saja yang perlu dibangun dan dikembangkan dari inisiatif AI mereka. Hal ini penting mengingat adanya kesenjangan literasi digital.

"Karena banyak sekali terjadi gap literasi digital, terutama dari sumber daya manusia. Di sini kita membantu untuk memberikan training yang diperlukan," kata dia.

Mulia menambahkan bahwa adopsi AI bukanlah hal baru, sebab implementasinya telah berlangsung selama kurang lebih satu dekade terakhir. Saat ini, bahkan manusia sudah sangat bergantung pada kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya melalui penggunaan asisten virtual.

"Kalau tanya apa-apa, mungkin sudah pakai Gen AI baik dari hyper scaler platform, baik Google, Microsoft, atau dibuat sendiri sesuai perusahaan masing-masing," jelas dia.