JAKARTAHYPE.COM - Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, terlihat meneteskan air mata saat acara penutupan Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 yang diselenggarakan di Mojokerto, Jawa Timur. Momen emosional ini terjadi saat beliau menyampaikan pidatonya di hadapan para peserta.

Salah satu alasan utama yang memicu kesedihan Menteri Jumhur adalah adanya kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Beliau merasa prihatin melihat program yang bertujuan mulia ini justru mendapatkan cibiran dari sebagian pihak.

"Orang yang lapar dikasih makan, Anda cerca, jangan dong, nggak boleh. Sorry saya kaya gini sangat sensitif karena saya tahu persis," ujar Menteri Jumhur Hidayat sambil berlinang air mata saat menyampaikan keresahannya di atas panggung KSI 2026 di Mojokerto.

Keresahan yang mendalam ini, menurut Menteri Jumhur, berakar pada data yang menunjukkan tingginya angka kelaparan di Indonesia. Beliau menyebutkan bahwa terdapat sekitar 22 juta penduduk Indonesia yang saat ini tengah berjuang melawan kelaparan kronis.

Angka mengejutkan ini, lanjut Menteri Jumhur, didasarkan pada studi komprehensif yang telah dilaksanakan. Studi tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Asian Development Bank (ADB) bersama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Lebih lanjut, studi yang dilaksanakan oleh ADB bersama Bappenas tersebut dilakukan dalam rentang waktu antara tahun 2016 hingga 2018. Periode ini mencatat kondisi riil terkait kerawanan pangan di berbagai wilayah Indonesia.

Saat ditanya lebih lanjut mengenai alasan di balik tangisannya, Menteri Jumhur Hidayat kembali menegaskan kepeduliannya terhadap isu kelaparan. Beliau merasa sangat terenyuh melihat kondisi jutaan warga yang masih membutuhkan perhatian serius.

Pernyataan Menteri Jumhur Hidayat menyoroti pentingnya apresiasi terhadap upaya pemerintah dalam mengatasi masalah gizi. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan dapat terus didukung, bukan justru dicerca.

Keresahan Menteri Lingkungan Hidup ini juga menjadi pengingat akan pentingnya empati dan pemahaman mendalam terhadap isu sosial yang kompleks di masyarakat. Dukungan dan solusi konstruktif sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah kelaparan.