JAKARTAHYPE.COM - Jakarta, CNBC Indonesia – Meskipun konsumsi minuman keras (miras) sering dianggap tidak berbahaya jika dilakukan dalam batas wajar, sebuah studi terbaru menyajikan temuan mengkhawatirkan mengenai dampaknya pada fungsi otak. Temuan ini menantang asumsi umum bahwa meminum alkohol secara sporadis tidak menimbulkan risiko kesehatan serius.

Sebuah tim peneliti dari Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mengaitkan tingkat konsumsi alkohol, bahkan yang tergolong rendah, dengan penurunan perfusi otak atau aliran darah ke area vital otak. Selain itu, penelitian tersebut juga menyoroti potensi miras menyebabkan korteks otak menjadi lebih tipis.

Korteks diidentifikasi sebagai bagian otak yang bertanggung jawab menangani sebagian besar proses pemikiran tingkat tinggi manusia. Penipisan pada lapisan ini dapat mengindikasikan adanya kerusakan struktural akibat paparan alkohol.

Temuan ini sangat relevan karena tanda-tanda penurunan perfusi dan ketebalan korteks terdeteksi pada partisipan yang mengonsumsi kurang dari 60 minuman per bulan untuk pria dan kurang dari 30 minuman per bulan untuk wanita. Satu takaran minuman setara dengan sekitar 14 gram etanol murni, sebanding dengan satu botol bir atau segelas kecil anggur.

Dilansir dari Science Alert, Senin (27/4/2026), para peneliti menemukan korelasi antara usia partisipan, tingkat konsumsi alkohol, dan pengukuran aliran darah serta ketebalan lapisan luar otak. Hal ini mengindikasikan bahwa efek minum alkohol sesekali dapat terakumulasi secara signifikan seiring berjalannya waktu.

Para peneliti menekankan pentingnya temuan ini dalam konteks rekomendasi kesehatan yang ada. "Konsumsi alkohol yang dianggap 'berisiko rendah' mungkin memiliki konsekuensi terhadap integritas jaringan kortikal, terutama seiring bertambahnya usia," tulis para peneliti dalam makalah publikasi mereka.

Studi tersebut melibatkan 45 orang dewasa sehat berusia antara 27 hingga 70 tahun yang tidak memiliki riwayat konsumsi alkohol dalam jumlah besar selama setahun terakhir. Mereka diminta melaporkan kebiasaan minum mereka selama satu tahun, tiga tahun, dan seumur hidup.

Data mengenai kebiasaan minum ini kemudian dibandingkan dengan hasil pemindaian MRI yang mengukur volume dan ketebalan kortikal serta perfusi otak untuk 27 peserta. Meskipun studi ini bersifat potong lintang (satu kali pengukuran), asosiasi antara alkohol dan perfusi otak terbukti lebih kuat daripada dengan ketebalan kortikal.

Ini mengarah pada hipotesis bahwa alkohol mungkin memberikan dampak lebih besar pada sirkulasi darah otak, yang merupakan jalur vital untuk mengantarkan oksigen dan nutrisi. "Secara keseluruhan, temuan ini mungkin mencerminkan efek kumulatif dari konsumsi alkohol tingkat rendah sepanjang hidup, yang berinteraksi dengan usia untuk mendorong penurunan sinergis pada perfusi dan ketebalan kortikal," tulis para peneliti.