JAKARTAHYPE.COM - Sebuah penelitian besar di Prancis baru-baru ini menimbulkan kekhawatiran baru mengenai keamanan zat pewarna makanan yang selama ini dianggap alami dan aman oleh publik. Temuan mengejutkan ini mengaitkan konsumsi beberapa pewarna alami dengan peningkatan risiko penyakit metabolisme serius seperti diabetes tipe 2 dan beberapa jenis kanker.
Studi berskala masif ini merupakan bagian dari proyek bernama NutriNet-Santé, yang dipimpin oleh kolaborasi peneliti dari berbagai universitas dan lembaga kesehatan di Prancis. Proyek ini melibatkan pemantauan pola konsumsi makanan dan minuman dari lebih dari 100.000 partisipan selama periode waktu rata-rata delapan tahun.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Diabetes Care secara spesifik menunjukkan korelasi kuat antara konsumsi aditif warna alami tertentu dengan potensi pengembangan diabetes tipe 2. Dikutip dari Media Indonesia, temuan ini menjadi peringatan penting bagi industri pangan dan konsumen.
Secara rinci, konsumsi tambahan beta-karoten sebagai pewarna dikaitkan dengan kenaikan risiko diabetes tipe 2 sebesar 44% pada responden studi. Sementara itu, kurkumin, yang diekstrak dari kunyit, menunjukkan kaitan dengan peningkatan risiko sebesar 49% untuk penyakit serupa.
Selain itu, antosianin, zat pewarna alami yang berasal dari pigmen buah-buahan dan sayuran, juga teridentifikasi memiliki hubungan signifikan. Zat ini terbukti meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 40%, padahal bahan-bahan tersebut banyak ditemukan dalam produk sehari-hari seperti yogurt, keju, dan minuman kemasan.
Kaitan risiko kesehatan ini tidak hanya berhenti pada diabetes, sebab studi lain yang dimuat dalam European Journal of Epidemiology menemukan implikasi terhadap risiko kanker. Pewarna alami beta-karoten dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara sebesar 41%, sementara pewarna karamel biasa meningkatkan risiko kanker secara keseluruhan sebesar 15%.
Mathilde Touvier, yang menjabat sebagai direktur penelitian di National Institute of Health and Medical Research (Inserm), menjelaskan bahwa zat alami yang telah diekstraksi dan diproses berbeda perilakunya di dalam tubuh. "Zat alami dapat berperilaku sangat berbeda di dalam tubuh ketika diekstraksi dari makanan aslinya dan diproses menjadi aditif," jelas Mathilde Touvier.
Lebih lanjut, penelitian laboratorium mengindikasikan bahwa aditif pewarna ini berpotensi memicu peradangan, menyebabkan resistensi insulin, serta mengganggu keseimbangan mikrobioma usus yang esensial bagi kesehatan. "Penelitian laboratorium menunjukkan aditif ini dapat memicu peradangan, menyebabkan resistensi insulin, dan mengganggu mikrobioma usus," tegas Mathilde Touvier.
Temuan ini muncul di tengah tren global, termasuk dorongan di Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump, untuk mengganti pewarna sintetis dengan alternatif alami. Gerakan ini mendorong perusahaan besar seperti General Mills dan WK Kellogg untuk menghilangkan aditif buatan dari produk mereka.