JAKARTAHYPE.COM - Adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) kini menjadi faktor utama di balik perubahan dinamika bursa kerja internasional yang semakin kompetitif. Penggunaan AI dalam operasional bisnis dinilai mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan sehingga kebutuhan akan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar mulai berkurang di berbagai sektor industri.
Fenomena ini mulai terlihat pada kebijakan perusahaan-perusahaan besar yang cenderung memperlambat proses perekrutan karyawan baru demi menjaga efisiensi operasional. Kondisi tersebut memicu diskusi mengenai tantangan bagi para pencari kerja di masa depan seiring dengan berlanjutnya tren otomatisasi yang semakin masif.
"AI membuat perusahaan besar memperlambat perekrutan karyawan baru," ujar Neel Kashkari selaku Presiden Federal Reserve Minneapolis beberapa waktu lalu. Dikutip dari CNBC Indonesia, pernyataan ini menggambarkan bagaimana teknologi mulai menggeser pola rekrutmen konvensional di pasar global.
Di Inggris Raya, dampak adopsi AI terhadap tenaga kerja dilaporkan lebih signifikan dibandingkan dengan wilayah lainnya menurut analisis dari Morgan Stanley. Perusahaan di negara tersebut mencatatkan peningkatan produktivitas rata-rata hingga 11,5 persen berkat integrasi teknologi cerdas dalam sistem kerja mereka.
Penurunan lowongan pekerjaan di Inggris terutama menyasar posisi yang kini dapat ditangani oleh sistem AI, seperti pengembang perangkat lunak dan konsultan. Data dari Kantor Statistik Nasional menunjukkan bahwa lowongan kerja pada posisi yang rentan terhadap AI merosot hingga 37 persen, sementara posisi lainnya turun 26 persen.
CEO ServiceNow, Bill McDermott, memberikan pandangannya mengenai bagaimana teknologi ini membantu perusahaan dalam mendisiplinkan pengeluaran operasional. Dalam wawancara pada Rabu (22/4/2026), ia menekankan pentingnya efisiensi bagi keberlangsungan bisnis jangka panjang di era digital.
"Teknologi AI telah berhasil meningkatkan produktivitas karyawan, hal ini penting untuk terus mendisiplinkan pengeluaran perusahaan," kata Bill McDermott. Pandangan ini mencerminkan fokus industri saat ini pada maksimalisasi hasil dengan pemanfaatan sumber daya yang lebih terukur.
ServiceNow sendiri memproyeksikan bahwa jumlah pegawai mereka pada tahun 2027 kemungkinan akan tetap sama dengan jumlah di tahun 2026. Strategi ini diambil sebagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas finansial perusahaan sembari tetap mengoptimalkan inovasi teknologi terbaru.
"Saat terjadi pergantian karyawan di perusahaan, Anda tidak perlu mengisi kekosongan tersebut," tutur Bill McDermott pada Kamis (23/4/2026). Hal ini menunjukkan adanya pergeseran strategi manajemen sumber daya manusia di mana posisi yang ditinggalkan tidak selalu harus diisi oleh personel baru.