JAKARTAHYPE.COM - Film dokumenter berjudul "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" belakangan ini menjadi perbincangan hangat di ruang digital Indonesia. Karya investigatif ini secara mendalam mengulas isu-isu sensitif mengenai eksploitasi sumber daya alam, konflik agraria, serta praktik kolonialisme modern yang terjadi di Tanah Air.
Karya sinema independen ini merupakan hasil kolaborasi antara dua sineas dokumenter terkemuka, yaitu Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale. Mereka dikenal memiliki rekam jejak dalam memproduksi karya-karya yang kritis terhadap kebijakan publik dan isu-isu sosial melalui pendekatan jurnalisme visual yang tajam.
Menurut informasi yang tersedia, film "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" telah melaksanakan gala premiere pada tanggal 12 April 2026. Acara pemutaran perdana tersebut diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Pemutaran perdana tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas sipil, aktivis lingkungan, kalangan akademisi, dan juga para pegiat film dokumenter. Hal ini menunjukkan adanya perhatian luas terhadap tema yang diangkat dalam film tersebut.
Hingga memasuki bulan Mei 2026, film dokumenter yang memiliki durasi 95 menit ini belum memperoleh jadwal tayang reguler di jaringan bioskop komersial nasional. Pihak produser juga belum mengumumkan ketersediaan karya ini di platform streaming populer seperti Netflix atau Disney+ Hotstar.
Saat ini, akses untuk menyaksikan film tersebut masih terbatas pada pemutaran independen yang diselenggarakan secara khusus. Selain itu, film ini juga diputar dalam agenda screening komunitas, diskusi publik, forum kampus, serta kegiatan advokasi budaya.
Informasi mengenai jadwal screening film ini umumnya dibagikan secara berkala melalui media sosial komunitas penyelenggara atau akun Instagram resmi Watchdoc. Hal ini menjadi cara utama bagi publik untuk mengetahui di mana dan kapan mereka dapat menyaksikannya.
"Film ini menyoroti perampasan tanah yang dialami oleh masyarakat adat, ekspansi industri tambang, serta perkebunan skala besar yang masif," demikian inti pembahasan yang diangkat dalam film tersebut. Fokus utama narasi diarahkan pada dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas tersebut.
Film ini juga membahas secara rinci mengenai kriminalisasi warga lokal yang berupaya mempertahankan hak atas tanah mereka. Selain itu, film ini mengungkap relasi kuasa yang timpang antara korporasi besar dan aparat negara dalam proses eksploitasi.