JAKARTAHYPE.COM - Industri penerbangan di Thailand menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan yang menjanjikan meskipun masih menghadapi tantangan signifikan dari tekanan ekonomi global, khususnya krisis energi. Proses pemulihan ini berjalan secara bertahap namun terlihat adanya perbaikan signifikan dalam operasional harian.

Salah satu indikator positif yang mulai terlihat adalah penurunan drastis dalam jumlah pembatalan penerbangan yang sempat melanda sektor tersebut. Hal ini menandakan bahwa maskapai mulai mampu mengelola tantangan operasional yang ada.

Namun demikian, kondisi industri ini belum sepenuhnya kembali ke tingkat normalitas sebelum adanya guncangan ekonomi dan geopolitik yang terjadi sebelumnya. Upaya pemulihan ini memerlukan waktu dan stabilitas kondisi eksternal.

Marsekal Udara Manat Chavanaprayoon, selaku Direktur Jenderal Otoritas Penerbangan Sipil Thailand (CAAT), memberikan pandangan mengenai dampak yang dirasakan selama periode tertentu. Penilaian ini disampaikan dalam konteks perkembangan industri terkini.

Dilansir dari The Nation, Minggu (7/6/2026), dampak paling terasa bagi kinerja sektor penerbangan terjadi pada paruh pertama tahun 2026. Periode ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang terjadi secara global.

"Kinerja industri penerbangan pada paruh pertama tahun ini terdampak signifikan oleh konflik bersenjata di Timur Tengah," ujar Marsekal Udara Manat Chavanaprayoon.

Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah tersebut diketahui menjadi pemicu utama gangguan dalam rantai pasokan dan biaya operasional penerbangan. Gangguan ini berujung pada pembatalan jadwal penerbangan secara masif.

Marsekal Udara Manat Chavanaprayoon juga merinci seberapa besar kerugian kapasitas yang diakibatkan oleh situasi tersebut pada periode tersebut. Hal ini menunjukkan skala tantangan yang dihadapi maskapai.

"Krisis tersebut sempat memicu pembatalan sekitar 3.840 penerbangan dan mengakibatkan hilangnya 1,2 juta kursi penumpang," kata Marsekal Udara Manat Chavanaprayoon.