JAKARTA, JakartaHype.com — Save the Children Indonesia merayakan 50 tahun kiprahnya dalam mengawal ekosistem perlindungan anak di Indonesia melalui penyelenggaraan Festival Pahlawan Anak yang akan digelar pada 13-16 Agustus 2026 di Gandaria City, Jakarta. Acara ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang kolaborasi dalam pemenuhan hak anak di Tanah Air.
Meskipun Indonesia menunjukkan kemajuan dalam pemenuhan hak anak di berbagai sektor, tantangan signifikan masih menghadang. Data Profil Anak Indonesia 2025 mencatat 29,8 juta anak mengalami ketertinggalan pembelajaran, prevalensi stunting mencapai 19,8%, dan 4.727 bencana pada tahun 2025 meningkatkan kerentanan anak. Selain itu, sepanjang 2025, lebih dari 15.300 kasus kekerasan seksual dan 12.160 kasus kekerasan fisik terhadap anak dilaporkan melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA). Ironisnya, 60,1% kasus kekerasan terjadi di rumah, yang seharusnya menjadi ruang teraman bagi anak.
Selama lima dekade sejak 1976, Save the Children Indonesia telah berupaya mengatasi berbagai persoalan tersebut melalui program-program di bidang kesehatan dan gizi, pendidikan dasar, perlindungan anak, peningkatan resiliensi, serta kesiapsiagaan dan respons bencana. Upaya ini diperkuat dengan advokasi kebijakan, penggalangan sumber daya, dan praktik-praktik terbaik untuk penguatan sistem perlindungan anak.
Beberapa capaian penting meliputi dukungan terhadap perubahan paradigma pengasuhan anak berbasis keluarga melalui Permensos No. 30/HUK/2011 dan PP Nomor 44 Tahun 2017. Penguatan partisipasi anak juga dilakukan melalui Children and Youth Advisory Network (CYAN) untuk isu perubahan iklim dan perlindungan anak di ranah digital. Kebijakan daerah yang mendukung pemenuhan hak anak, seperti penetapan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) menjadi Lembaga Ketahanan Desa (LKD), turut menjadi bukti kolaborasi nyata. Kampanye Stop Pneumonia (2019–2022) berhasil mendorong Kementerian Kesehatan memasukkan vaksinasi PCV dalam imunisasi dasar, yang diprediksi menyelamatkan 10.000 anak balita dari kematian akibat pneumonia.
"Selama 50 tahun, Save the Children Indonesia belajar bahwa perubahan yang paling bermakna tidak pernah lahir dari satu pihak, melainkan dari kolaborasi," ujar Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia. "Berbagai capaian yang telah diraih menunjukkan bahwa perubahan nyata bagi anak dapat terwujud ketika semua pihak bergerak bersama. Namun, perjalanan ini juga mengingatkan kita bahwa masih banyak tantangan yang harus dijawab. Karena itu, keberpihakan terhadap anak tidak boleh berhenti sebagai komitmen, tetapi harus diwujudkan melalui kolaborasi yang semakin kuat dan aksi yang konkret dan berkelanjutan."
Festival Pahlawan Anak yang akan diselenggarakan ini merupakan gerakan kolaboratif yang mengajak masyarakat untuk berperan aktif menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung bagi setiap anak. Festival ini akan menghadirkan dialog, pembelajaran, dan pengalaman interaktif.
Save the Children Indonesia mengapresiasi dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pakuwon Group, serta Narasi sebagai media partner. Dukungan juga datang dari para pendukung Save the Children Indonesia, Maudy Ayunda dan Najwa Shihab, serta para Festival Advisor: Daniel Rembeth, Dewi Soeharto, Angga Sasongko, Dini Ardi, Gupta Sitorus, Herry Budiazhari Salim, Loemongga Haoemasan, Primo Rizky, dan Tom Tandio, serta seluruh mitra yang berkontribusi.
Peringatan 50 tahun Save the Children Indonesia menjadi titik tolak untuk memperkuat gerakan bersama dalam mengawal pemenuhan hak anak. Melalui kolaborasi yang terus diperluas, termasuk melalui Festival Pahlawan Anak, Save the Children Indonesia mengajak lebih banyak pihak untuk turut serta membangun ekosistem yang berpihak pada kepentingan terbaik setiap anak.