JAKARTAHYPE.COM - Jakarta, CNBC Indonesia mencatat bahwa popularitas drama dari Tiongkok semakin meluas secara global, didorong oleh kemajuan signifikan dalam industri hiburan negara tersebut. Lonjakan ini terjadi seiring dengan pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi dalam proses produksi.

Penggunaan AI telah memungkinkan produksi drama Tiongkok menjadi jauh lebih efisien dari segi biaya, bahkan mengurangi kebutuhan akan elemen produksi konvensional seperti kru, kamera, dan pemain manusia. Teknologi ini sangat dominan diterapkan dalam produksi drama mikro yang memiliki durasi tayang pendek.

Data dari Eye menunjukkan bahwa hampir 500 ribu drama mikro yang dihasilkan oleh AI telah diunggah ke Douyin, platform yang merupakan versi Tiongkok dari TikTok. Jumlah ini setara dengan total unggahan di platform tersebut sepanjang tahun sebelumnya, menegaskan skala adopsi teknologi ini.

Ketersediaan alat AI video yang semakin canggih, seperti Seedance yang diluncurkan oleh ByteDance pada Februari lalu, turut mempercepat tren ini. Alat-alat ini menawarkan kemampuan yang luar biasa dalam menciptakan konten visual berkualitas tinggi dengan cepat.

Dari sisi finansial, dampaknya sangat signifikan, di mana sejumlah klip drama AI mampu meraup ratusan juta penayangan. Media pemerintah Tiongkok mencatat bahwa drama mikro AI menyumbang nilai fantastis sebesar US$3 miliar dari total pasar drama mikro yang mencapai US$14 miliar, atau setara dengan sekitar Rp243 triliun.

Meskipun menawarkan keuntungan finansial yang menggiurkan, perkembangan masif AI ini menimbulkan protes keras dari berbagai pihak, terutama para aktor yang mengkhawatirkan berkurangnya peluang kerja mereka. Kekhawatiran ini semakin menguat setelah sebuah platform streaming besar mengungkapkan penggunaan basis data lebih dari 100 aktor untuk produksi AI di masa mendatang.

Banyak pihak menyuarakan keprihatinan bahwa langkah ini akan mengakselerasi hilangnya lapangan kerja di sektor kreatif, sebagaimana dikutip dari New York Times, Senin (4/5/2026). Beberapa selebriti dan masyarakat biasa bahkan mengancam akan mengambil jalur hukum jika menemukan kemiripan wajah mereka digunakan tanpa izin dalam drama mikro berbasis AI.

Sebagai respons terhadap isu etika dan hak cipta ini, pemerintah setempat telah berupaya mengatasi masalah tersebut dengan mengeluarkan aturan baru. Aturan ini mewajibkan adanya persetujuan eksplisit sebelum wajah seseorang dapat digunakan untuk menciptakan avatar digital dalam produksi konten.

Wang Yushun, seorang pembuat drama mikro AI, mengungkapkan keterkejutannya terhadap kemampuan teknologi AI dalam menghasilkan adegan yang realistis. Ia mengakui bahwa teknologi ini sangat membantu dalam menekan biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk setiap proyek.