JAKARTAHYPE.COM - Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) sebagai momentum penting untuk mengenang kesadaran berbangsa dalam melawan kondisi buruk masa kolonial. Peringatan ini mengacu pada sejarah perjuangan para tokoh pendiri bangsa yang berhasil menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Secara historis, Harkitnas diperingati sebagai hari lahirnya organisasi Boedi Oetomo, sebuah momen yang menandai tumbuhnya kesadaran nasional di Indonesia. Semangat yang sama kemudian diperkuat dua puluh tahun kemudian melalui peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Penetapan tanggal 20 Mei sebagai Harkitnas secara resmi dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, tertanggal 16 Desember 1959. Keputusan ini menegaskan pentingnya mengenang peristiwa kebangkitan bangsa tersebut.
Kebangkitan nasional kala itu didorong oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi penderitaan rakyat akibat penjajahan serta tumbuhnya jiwa nasionalisme yang didukung oleh kepercayaan akan potensi besar bangsa, merujuk pada kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.
Selain itu, faktor internal juga diperkuat oleh semangat kaum intelektual yang berani memimpin perlawanan terhadap penjajah. Faktor eksternal yang turut mendorong antara lain semangat liberalisme, sosialisme global, serta munculnya tokoh-tokoh pembebasan seperti Mahatma Gandhi.
Penulis menekankan bahwa setiap peristiwa bersejarah memiliki tiga makna penting: kesaksian, penerusan realitas, dan penyebaran nilai-nilai. "Lahirnya Boedi Utomo adalah kesaksian sejarah bangsa bahwa ada tokoh-tokoh negeri yang peduli pada nasib bangsanya (kesaksian), dan bahwa peringatan Harkitnas mengandung nilai yang pantas diteruskan kepada dan oleh generasi berikutnya," ujar Kasdin Sihotang.
Kaitannya dengan masa kini, refleksi Harkitnas dapat dikaitkan dengan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg dan Abraham Maslow. Kohlberg mengidentifikasi tingkat moral tertinggi adalah pasca adat (post konvensional), yang ditandai dengan kesadaran rasio dan suara hati yang kuat pada orang dewasa.
Sementara itu, Abraham Maslow menempatkan fokus perhatian pada tahap aktualisasi diri, di mana prioritas beralih dari kebutuhan dasar menuju pengembangan nalar dan pembangunan kehidupan yang bermutu bagi diri sendiri maupun orang lain. Jika dikaitkan dengan usia kemerdekaan Indonesia yang mendekati 78 tahun, idealnya bangsa ini telah mencapai kualitas moral tingkat pascakonvensional tersebut.
Namun, penulis menyoroti bahwa realitasnya masih jauh dari ideal, terutama dalam pengambilan kebijakan pembangunan. Fenomena yang terjadi saat ini disebutnya seperti "kolonialisme baru," di mana kepentingan segelintir pihak, termasuk pejabat publik yang berpihak pada kaum kapitalis, mendominasi.