JAKARTAHYPE.COM - Fenomena kegembiraan yang muncul setelah memperoleh item fesyen baru, seperti baju atau tas yang telah lama dinanti, dikenal secara luas sebagai retail therapy. Aktivitas berbelanja ini sering dikaitkan dengan pemenuhan kepuasan emosional dan peningkatan suasana hati bagi sebagian individu.
Meskipun sering dipandang sebagai pembenaran atas pengeluaran, berbagai penelitian ilmiah telah mengindikasikan adanya dampak signifikan dari proses memilih dan membeli barang terhadap kondisi psikologis seseorang. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai efektivitas belanja dalam memperbaiki mood.
Sebuah studi penting yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Psychology memberikan wawasan mengenai mekanisme psikologis di balik tren ini. Para peneliti menemukan bahwa tahap pengambilan keputusan selama proses belanja dapat berfungsi sebagai peredam perasaan sedih.
Menurut temuan studi tersebut, "Ketika seseorang menentukan pilihan terhadap barang yang ingin dibeli, muncul rasa kendali terhadap situasi yang sedang dihadapi." Perasaan memiliki kontrol (agency) ini terbukti berkontribusi langsung pada peningkatan suasana hati subjek yang diteliti.
Lebih lanjut, manfaat psikologis dari belanja tidak hanya terbatas pada momen penyelesaian transaksi pembelian. Penelitian yang sama menyoroti bahwa fase pertimbangan dan pemilihan opsi juga memberikan efek positif.
Hal ini disebabkan oleh perasaan kebebasan yang dirasakan individu saat menentukan pilihan mereka sendiri. "Proses memilih dan mempertimbangkan berbagai opsi juga memberikan efek positif karena membuat seseorang merasa lebih bebas menentukan keputusan untuk dirinya sendiri," demikian temuan dari penelitian tersebut.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa euforia yang ditimbulkan oleh belanja cenderung bersifat sementara, terutama jika aktivitas tersebut dilakukan secara berlebihan atau di luar batas kemampuan finansial. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan dalam kebiasaan berbelanja.
Disarankan agar belanja dijadikan sebagai aktivitas yang terencana dan berorientasi pada kebutuhan, bukan sekadar respons impulsif terhadap dorongan sesaat. Salah satu strategi yang dianjurkan adalah memprioritaskan pembelian barang yang menawarkan nilai guna jangka panjang.
Contoh barang yang bernilai guna jangka panjang meliputi pakaian kerja esensial, outfit basic yang serbaguna, atau item fesyen fundamental yang dapat sering digunakan dalam berbagai konteks.