JAKARTAHYPE.COM - Amerika Serikat (AS) bersiap menjadi tuan rumah bersama untuk perhelatan akbar sepak bola dunia, Piala Dunia 2026, yang diprediksi akan membawa gelombang besar keuntungan ekonomi bagi kota-kota penyelenggara. Sektor pariwisata dan perhotelan di berbagai wilayah AS diperkirakan akan mengalami peningkatan signifikan selama turnamen berlangsung.
Turnamen sepak bola internasional ini dijadwalkan akan digelar mulai tanggal 11 Juni hingga puncaknya pada 19 Juli mendatang. Periode penyelenggaraan yang cukup panjang ini menjadi kesempatan emas bagi perekonomian lokal di kota-kota yang terpilih menjadi lokasi pertandingan.
Salah satu kota yang diproyeksikan menjadi penerima manfaat terbesar dari ajang ini adalah Dallas. Kota ini akan menjadi tuan rumah bagi sembilan pertandingan sekaligus dalam kompetisi tersebut.
Berdasarkan analisis mendalam yang dilakukan oleh Bookies.com, diperkirakan sekitar 180 ribu wisatawan akan membanjiri Amerika Serikat untuk menyaksikan langsung Piala Dunia 2026. Jumlah kedatangan turis internasional dan domestik ini menjadi indikator kuat membaiknya sektor pariwisata.
Para penggemar sepak bola yang datang tersebut diprediksi akan mengeluarkan dana signifikan selama berada di AS. Estimasi pengeluaran kolektif dari 180 ribu wisatawan ini mencapai angka USD 60 juta, atau setara dengan sekitar Rp 1 triliun.
Dana besar ini akan dialokasikan untuk berbagai kebutuhan selama mereka berada di sana. Pengeluaran tersebut mencakup biaya akomodasi, konsumsi makanan dan minuman, kebutuhan transportasi lokal, hingga berbagai aktivitas hiburan lainnya.
Dampak positif ini tidak hanya dirasakan oleh sektor pariwisata, tetapi juga sektor pendukung lainnya, khususnya industri perhotelan. Industri perhotelan di kota-kota penyelenggara diperkirakan akan mengalami lonjakan performa yang substansial.
"Piala Dunia 2026 diproyeksi mendatangkan sekitar 180 ribu wisatawan selama turnamen berlangsung," ujar analis dari Bookies.com, merinci proyeksi kedatangan turis.
Lebih lanjut, dampak terhadap sektor akomodasi sangat terlihat jelas, di mana industri perhotelan secara keseluruhan diprediksi akan mencatatkan pertumbuhan sebesar 22% selama periode penyelenggaraan kompetisi.