JAKARTA, JakartaHype.com – Google dilaporkan tengah mendorong penggunaan alat kecerdasan buatan (AI) miliknya secara masif. Namun, langkah ini memicu kontroversi setelah ditemukan bahwa peramban Chrome mengunduh file berukuran 4GB yang berisi data untuk menjalankan Gemini Nano, model bahasa besar (LLM) on-device milik Google, tanpa persetujuan pengguna.
Temuan ini pertama kali diungkapkan oleh ilmuwan komputer Alexander Hanff melalui situs resminya, The Privacy Guy. Hanff menjelaskan secara mendetail mengapa tindakan Google ini dianggap sebagai praktik yang merugikan pengguna.
File tersebut ditemukan bernama "weights.bin" dan tersimpan di dalam folder Chrome pada direktori Library macOS—sebuah lokasi yang biasanya tersembunyi agar pengguna tidak mengubah file sistem yang krusial. Keberadaan file sebesar 4GB lebih ini telah diverifikasi dan dipastikan berada di lokasi yang disebutkan oleh Hanff.
Hanff mencatat bahwa Chrome tidak memberikan perintah atau permintaan izin kepada pengguna untuk mengunduh data Gemini Nano tersebut. Padahal, data ini digunakan untuk mendukung fitur bertenaga AI seperti "Help me write" dan deteksi penipuan langsung di perangkat.
Menariknya, distribusi file ini tampaknya dilakukan secara bertahap. Berdasarkan pengujian pada beberapa perangkat, file "weights.bin" muncul sesaat setelah Chrome diperbarui ke versi 148.0.7778.97. Sebagaimana dikutip dari Engadget pada Rabu (6/5/2026), ketika pengguna mencoba menghapus direktori yang berisi file besar tersebut, sistem Chrome secara otomatis mengunduhnya kembali dalam hitungan menit.
"Pengguna menghapus, Chrome mengunduh ulang. Pengguna menghapus lagi, Chrome mengunduh lagi," tulis Hanff. Menurutnya, satu-satunya cara untuk menghentikan pengunduhan otomatis ini adalah dengan menonaktifkan fitur AI melalui chrome://flags, menggunakan alat kebijakan perusahaan, atau menghapus instalasi Chrome sepenuhnya.
Hanff menyoroti sejumlah masalah serius di balik perilaku ini. Selain pengunduhan yang tidak terlihat dan tanpa opsi opt-in (persetujuan di awal), file tersebut ditempatkan di direktori tersembunyi dengan nama generik yang tidak memberikan informasi jelas mengenai fungsinya.
Lebih lanjut, Hanff memperingatkan bahwa tindakan ini berpotensi melanggar hukum privasi Eropa, termasuk General Data Protection Regulation (GDPR). Selain masalah hukum, terdapat pula dampak lingkungan yang signifikan. Hanff memperkirakan bahwa jika file 4GB ini didistribusikan ke 500 juta perangkat (sekitar 15 persen dari total pengguna Chrome), maka proses tersebut akan menghasilkan sekitar 30.000 ton emisi CO2e. Jumlah ini setara dengan emisi tahunan dari 6.500 mobil.
Angka tersebut baru mencakup biaya pengiriman data awal, belum termasuk faktor tambahan lainnya yang dapat meningkatkan konsumsi energi secara keseluruhan. Hingga berita ini diturunkan, pihak Google belum memberikan tanggapan resmi terkait temuan tersebut.