JAKARTAHYPE.COM - Anthropic, sebuah perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI), kembali menjadi sorotan publik setelah sebelumnya mengalami ketegangan signifikan dengan pemerintahan Donald Trump. Perseteruan ini bermula ketika Anthropic memegang kontrak besar dengan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (DoD/Pentagon).
Perusahaan tersebut secara tegas menolak penggunaan alat AI mereka untuk pengembangan senjata otonom atau kegiatan pengawasan terhadap warga Amerika Serikat. Penolakan ini memicu reaksi keras dari pihak pemerintahan saat itu, yang kemudian berujung pada pencabutan kontrak penting.
Pemerintahan Trump saat itu menyatakan kemarahan atas sikap Anthropic, bahkan melabeli perusahaan tersebut sebagai entitas sayap kiri yang dinilai membahayakan keselamatan warga AS. Sebagai konsekuensinya, Departemen Pertahanan memasukkan Anthropic ke dalam daftar pantauan sebagai ‘risiko rantai pasok’.
Meskipun sempat mengalami kesulitan dengan pemerintahan Trump, Anthropic kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan pertumbuhan yang signifikan. Basis pengguna layanan AI mereka dikabarkan melonjak tajam, sementara model AI terbaru mereka, Mythos, mendapatkan perhatian luas di industri teknologi global.
Terbaru, Anthropic mengumumkan pembentukan perusahaan patungan baru dengan investasi fantastis mencapai US$1,5 miliar, atau setara dengan sekitar Rp 26 triliun. Kemitraan strategis ini melibatkan tiga raksasa keuangan ternama, yaitu Goldman Sachs, Blackstone, dan Hellman & Friedman.
Tujuan utama dari proyek kolaboratif ini adalah mengimplementasikan model AI andalan Anthropic, yakni Claude, secara langsung ke dalam berbagai lini bisnis mitra mereka. Langkah ini diambil untuk mengatasi tantangan utama dalam adopsi AI, yaitu minimnya tenaga ahli yang mampu mengaplikasikan teknologi tersebut pada kebutuhan bisnis nyata.
"Ada kekurangan yang besar pada orang-orang yang mengetahui cara menerapkan alat-alat ini ke dalam bisnis dan mentransformasikan bisnis tersebut," jelas Marc Nachmann, kepala global manajemen aset dan kekayaan Goldman Sachs, Dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (5/5/2026).
Entitas baru ini tidak akan berfungsi sebagai firma konsultan tradisional, melainkan akan fokus pada perancangan ulang alur kerja operasional perusahaan. Integrasi AI akan dilakukan secara mendalam ke dalam proses inti bisnis para mitra investasi tersebut.
Marc Nachmann lebih lanjut menekankan bahwa kepemilikan model AI canggih saja belum cukup untuk menciptakan perubahan fundamental dalam operasional perusahaan. Dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu menjembatani antara teknologi dan realitas operasional.