JAKARTAHYPE.COM - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) solar non-subsidi, yaitu Pertamina Dex dan Dexlite, memicu kekhawatiran di kalangan pemilik mobil diesel. Kekhawatiran ini muncul mengenai potensi penurunan nilai jual kembali kendaraan mereka di pasar mobil bekas.
Fenomena ini sempat menimbulkan spekulasi apakah harga jual kembali model SUV ladder frame populer seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport akan terpengaruh secara signifikan. Banyak pemilik mulai mempertimbangkan opsi menjual atau melakukan trade-in mobil diesel mereka karena biaya operasional yang meningkat.
Menariknya, observasi di pasar mobil bekas menunjukkan hasil yang kontradiktif dengan kekhawatiran tersebut. Harga dan permintaan untuk duo SUV diesel tangguh ini justru terpantau masih menunjukkan stabilitas yang cukup baik.
Dari sisi pedagang, terjadi perubahan strategi dalam pengelolaan stok kendaraan diesel. Banyak dealer mobil bekas kini memilih untuk lebih berhati-hati dan cenderung menahan stok agar tidak terjadi penumpukan unit.
Meskipun ada kehati-hatian dari sisi dealer, para pedagang mengonfirmasi bahwa belum terjadi fenomena panic selling dari pemilik mobil diesel mewah. Aktivitas jual beli di bursa mobil bekas, termasuk di sentra seperti WTC Mangga Dua, Jakarta Utara, masih berjalan dalam batas normal.
Dikutip dari Genz.id, salah satu pedagang mobil bekas bernama Julian mengungkapkan bahwa harga unit-unit diesel populer tersebut belum menunjukkan adanya gejolak signifikan. "Harga masih normal, untuk Pajero Dakar 2018 masih Rp400 jutaan, Fortuner 2.8 VRZ GR Sport Rp475 juta," jelas Julian.
Pedagang lain, Tono, mengamini kondisi pasar yang relatif stabil pasca kenaikan harga BBM tersebut. "Belum ada penurunan harga, bahkan enggak ada sampai harga jatuh, yang ngejual bukan karena harga solar mahal, ya masih biasa lah," kata Tono.
Stabilitas harga ini menunjukkan bahwa tekanan dari kenaikan biaya BBM belum cukup kuat untuk mengubah persepsi nilai jual mobil diesel segmen SUV ini di mata konsumen. Konsumen yang mencari model ini tampaknya masih memiliki alasan kuat untuk tetap membelinya.
Alasan utama stabilitas permintaan ini bersumber dari kebutuhan fungsionalitas di luar Pulau Jawa. Tono menjelaskan bahwa kendaraan seperti Fortuner dan Pajero Sport masih sangat dibutuhkan karena kondisi jalan di daerah tersebut menuntut ketangguhan. "Kalau peminat Fortuner dan Pajero masih ramai ya, apalagi yang di daerah-daerah luar Jawa, karena kan jalanan di sana masih belum sebagus di Jawa," tambah Tono.