JAKARTAHYPE.COM - Perayaan Idul Adha selalu membawa berkah berupa limpahan daging hewan kurban, baik sapi maupun kambing, yang perlu penanganan tepat agar kesegarannya terjaga. Banyak masyarakat menghadapi tantangan dalam menentukan metode penyimpanan terbaik untuk mencegah daging cepat mengalami pembusukan.

Kualitas daging kurban sangat bergantung pada prosedur penanganan awal serta kontrol suhu penyimpanan yang ketat, mengingat daging merupakan bahan pangan yang rentan terhadap aktivitas mikroorganisme. Ini menjadi fokus utama bagi mereka yang menerima pembagian daging dalam jumlah besar.

Penjelasan mengenai regulasi suhu penyimpanan ini disampaikan langsung oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh. Rina Pujiastuti, saat ia melakukan pemantauan proses penyembelihan hewan kurban. Momen ini terjadi di Masjid Raya Islamic Center Provinsi Jawa Timur, Surabaya.

Dilansir dari Suara, drh. Rina Pujiastuti menekankan bahwa daya tahan daging sangat dipengaruhi oleh lingkungan penyimpanannya karena bakteri berkembang biak pesat pada suhu yang tidak ideal. Suhu lingkungan yang hangat sangat mendukung percepatan kerusakan pada daging.

Daging kurban yang dibiarkan pada suhu ruang normal hanya memiliki batas waktu aman konsumsi yang sangat singkat, yaitu sekitar dua hingga tiga jam saja. Oleh karena itu, distribusi atau pemindahan ke fasilitas pendingin harus segera dilakukan.

Jika daging ditempatkan di dalam chiller atau kulkas bagian bawah dengan pengaturan suhu di bawah 4 derajat Celsius, masa simpannya dapat memanjang hingga tiga hingga lima hari. Ini adalah opsi penyimpanan jangka pendek yang efektif.

Sementara itu, untuk pengawetan jangka panjang, pembekuan di dalam freezer pada suhu minus 18 derajat Celsius direkomendasikan. Dengan metode ini, daging dapat bertahan awet selama enam hingga dua belas bulan lamanya.

Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan masyarakat adalah mencuci daging mentah sebelum dimasukkan ke dalam kulkas, padahal tindakan ini justru berbahaya bagi kualitas daging.

"Mencuci daging justru memicu masuknya bakteri merugikan dan mempercepat proses pembusukan," ujar drh. Rina Pujiastuti mengenai praktik yang keliru tersebut.