JAKARTA, JakartaHype.com – Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta kian meresahkan. Meski Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana memperluas aksi penangkapan massal, pakar dari IPB University mengingatkan bahwa pendekatan tersebut tidak akan efektif jika dilakukan secara tunggal.

Pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr. Charles PH Simanjuntak, menegaskan bahwa pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu. Menurutnya, kombinasi berbagai metode jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan penangkapan fisik.

“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu, mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” ungkap Charles dalam keterangannya sebagaimana dikutip dari situs resmi IPB pada Kamis (16/4/2026).

Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan spesies asing introduksi yang bersifat invasif dengan kemampuan reproduksi luar biasa. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.

Charles menjelaskan, satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor betina sekaligus. Ikan jantan kemudian akan menjaga telur di dalam liang hingga menetas. Pola asuh ini membuat persentase kelangsungan hidup atau sintasan ikan ini mencapai lebih dari 90 persen. Selain itu, ikan ini mampu bereproduksi pada ukuran yang relatif kecil, sehingga mempercepat siklus invasi di perairan.

Kondisi ini diperparah dengan absennya predator alami di ekosistem lokal. Di habitat asalnya, Sungai Amazon, populasi ikan sapu-sapu dikendalikan oleh predator seperti ikan Common Snook, Tarpon, buaya Spectacled Caiman, hingga burung Neotropic Cormorant.

“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” jelas Charles.

Kombinasi Tiga Strategi Utama

Untuk mengatasi persoalan ini, Charles menekankan pentingnya tiga langkah strategis: