JAKARTAHYPE.COM - Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi robotika belakangan ini menimbulkan kegelisahan luas di kalangan pekerja mengenai potensi gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran. Kekhawatiran ini muncul karena banyak pihak memprediksi bahwa banyak jenis pekerjaan akan segera digantikan sepenuhnya oleh mesin canggih.
Namun, pandangan yang berbeda disampaikan oleh seorang akademisi terkemuka dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenai situasi ketenagakerjaan di masa depan. Dosen dari Departemen Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik UGM, Ardi Wiranata, memberikan perspektif yang lebih seimbang mengenai dampak teknologi ini terhadap dunia kerja.
Ardi Wiranata menegaskan bahwa meskipun otomatisasi terus berkembang, peran sentral manusia dalam banyak sektor industri akan tetap dibutuhkan dan sulit untuk sepenuhnya digantikan oleh robot. Ia menjelaskan bahwa mesin memerlukan dukungan berkelanjutan dari tenaga ahli manusia untuk menjaga operasionalnya tetap berjalan optimal.
"Kalau masih ada lag, responnya tidak akan secepat manusia dan pengambilan keputusan belum bisa secepat kita. Sebenarnya, produksi robot itu tergantung pada kondisi dan kebutuhan industri," jelas Ardi Wiranata saat dikutip dari laman resmi UGM pada Kamis, 30 April 2026.
Salah satu alasan utama mengapa peran manusia tetap krusial adalah kebutuhan akan pemeliharaan, perbaikan, serta koreksi sistem pada robot yang beroperasi. Mesin, seberapa pun canggihnya, rentan terhadap kegagalan teknis yang memerlukan intervensi cepat dan cerdas dari operator manusia.
Risiko teknis pada robot juga sangat bergantung pada kualitas sensor yang digunakan dan efektivitas pemrogramannya. Keterbatasan sensor menjadi salah satu tantangan mendasar yang dihadapi dalam implementasi teknologi otomatisasi secara luas.
"Tergantung ke sensor dan fungsi dari pemrogramannya. Jadi, memang perlu diperiksa dulu apakah sensor yang dipakai berbahaya atau tidak," ungkap Ardi Wiranata mengenai pentingnya validasi komponen robot.
Ia menambahkan bahwa kesalahan operasional dapat diminimalisir melalui kombinasi sensor yang optimal, namun pemeriksaan rutin oleh manusia tetap menjadi prosedur yang tak terhindarkan untuk memastikan keamanan dan akurasi sistem.
Di sisi lain, Ardi juga mengamati tren penurunan biaya produksi robot yang signifikan, terutama dengan adanya produksi massal yang sudah diterapkan di Tiongkok. Skala produksi yang besar ini berpotensi menekan biaya per unit secara drastis, sehingga adopsi teknologi bisa menjadi lebih ekonomis.