JAKARTAHYPE.COM - Sebuah pengungkapan mengejutkan datang dari OpenAI, perusahaan teknologi terkemuka di Amerika Serikat, mengenai adanya operasi penyebaran disinformasi berskala besar. Temuan ini menyoroti bagaimana teknologi kecerdasan buatan generatif telah dimanfaatkan dalam ranah geopolitik digital.

Operasi propaganda yang teridentifikasi ini secara spesifik dirancang untuk memicu penolakan publik terhadap kebijakan yang ditetapkan oleh Presiden AS saat itu, Donald Trump. Fokus utama kampanye ini adalah menargetkan penerapan tarif perdagangan yang dianggap merugikan kepentingan Beijing.

Hal ini dikonfirmasi melalui publikasi resmi yang dikeluarkan oleh OpenAI pada hari Rabu, 10 Juni waktu setempat. Publikasi tersebut memberikan rincian mengenai bagaimana layanan chat flagship milik mereka digunakan sebagai instrumen dalam menyebarkan narasi tertentu.

Menurut analisis internal yang dilakukan oleh perusahaan teknologi tersebut, upaya penyebaran propaganda ini terdeteksi aktif beroperasi selama periode waktu tertentu. Aktivitas ini berlangsung intensif antara akhir tahun 2025 hingga memasuki awal tahun 2026.

Pemanfaatan kecerdasan buatan generatif dalam operasi ini menunjukkan evolusi taktik dalam perang informasi global. Hal ini menjadi peringatan serius mengenai potensi penyalahgunaan alat digital canggih untuk tujuan politik.

"Sebuah temuan signifikan diungkapkan oleh raksasa teknologi Amerika Serikat, OpenAI, mengenai adanya upaya penyebaran propaganda yang dilakukan oleh pihak China," Dikutip dari TREN.BISNISMARKET.COM.

Kampanye yang terdeteksi tersebut, menurut temuan perusahaan, "secara spesifik dirancang untuk membangkitkan perlawanan terhadap kebijakan yang diberlakukan oleh Presiden AS saat itu, Donald Trump, khususnya terkait tarif perdagangan yang merugikan Beijing."

Informasi mengenai deteksi ini dipublikasikan secara resmi oleh OpenAI pada hari Rabu, 10 Juni waktu setempat, yang "menyoroti bagaimana layanan chat flagship mereka dimanfaatkan untuk tujuan tersebut."

Lebih lanjut, analisis internal perusahaan menunjukkan bahwa "Upaya propaganda tersebut terdeteksi aktif beroperasi antara akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026."