JAKARTAHYPE.COM - Sebuah peristiwa langka dan bersejarah berhasil diabadikan setelah penantian selama dua tahun, yaitu keberhasilan orangutan Sumatra menyeberangi jembatan gantung yang terpasang di hutan Sumatra. Momen penting ini tidak hanya membahagiakan para peneliti konservasi, tetapi juga menarik perhatian media internasional ternama seperti The Guardian dan Vice.

Peristiwa ini terjadi di Pakpak Bharat, Sumatra Utara, di mana sebuah jembatan tali khusus telah dipasang oleh aktivis lingkungan untuk mengatasi fragmentasi habitat. Dokumentasi video menunjukkan seekor orangutan Sumatra dengan sigap memanfaatkan jembatan tali tersebut untuk berpindah dari satu area hutan ke area hutan lainnya.

Jembatan gantung ini didirikan pada tahun 2024 di atas ruas jalan Lagan-Pagindar, yang merupakan infrastruktur vital bagi masyarakat setempat. Sayangnya, pembangunan jalan tersebut telah memutus koridor alami penting bagi pergerakan satwa liar di kawasan tersebut.

Direktur Tangguh Hutan Khatulistiwa (TaHuKah), Erwin Alamsyah Siregar, menegaskan bahwa tanpa intervensi buatan, pergerakan satwa melintasi jalan raya tersebut mustahil dilakukan. "Penyeberangan alami tidak mungkin dilakukan oleh satwa liar," kata Erwin Alamsyah Siregar, dikutip dari The Guardian, Selasa (28/4/2026).

Selama dua tahun penuh, organisasi Komunitas Orang Utan Sumatra (SOS) bersama TaHuKah telah memasang kamera pengintai untuk memantau penggunaan jembatan tersebut. Mereka secara intensif menantikan momen bersejarah ketika orangutan akhirnya berani menggunakan struktur buatan manusia itu.

Helen Buckland, kepala eksekutif SOS, mengungkapkan kegembiraan luar biasa tim setelah penantian panjang tersebut terbayarkan. "Anda seharusnya mendengar teriakan kegembiraan dari tim," ujar Helen Buckland. "Setelah dua tahun yang panjang, akhirnya ini terjadi," tuturnya penuh antusias.

Ini menandai penampakan pertama kali orangutan terekam kamera saat melintasi jembatan gantung yang didirikan khusus untuk konservasi. Keberhasilan ini memberikan secercah harapan vital bagi para konservasionis yang khawatir populasi orangutan terancam punah karena terisolasi.

Populasi sekitar 350 orangutan di area tersebut menghadapi risiko besar akibat pemisahan yang diakibatkan oleh jalan Lagan-Pagindar. Isolasi ini membagi populasi menjadi dua kelompok, yaitu yang berada di cagar alam Siranggas dan yang satunya di hutan lindung Sikulaping.

Helen Buckland menekankan kerentanan spesies ini terhadap masalah genetik akibat populasi yang terpisah dan kecil. "Orang utan memiliki siklus hidup yang sangat lambat, dan sangat rentan terhadap penyempitan genetik," kata Buckland. Kelompok kecil rentan terhadap perkawinan sedarah yang dapat menyebabkan kepunahan fungsional.