JAKARTAHYPE.COM - Wabah infeksi Salmonella Stanley yang tersebar luas di berbagai negara kini mulai menunjukkan titik terang mengenai sumber penularannya. Investigasi terbaru mengarah pada dugaan bahwa produk mi instan dengan bumbu rasa ayam tertentu menjadi sumber utama penyebaran bakteri berbahaya ini.
Investigasi ini diperkuat oleh temuan serius dalam sebuah penilaian cepat yang dilakukan oleh badan kesehatan Eropa. Bukti epidemiologis menunjukkan korelasi kuat antara kasus-kasus yang tercatat dengan konsumsi produk dari merek mi instan yang sama.
Penilaian cepat (Rapid Outbreak Assessment) tersebut dirilis bersama oleh European Food Safety Authority (EFSA) dan European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC). Dokumen ini menjadi landasan utama dalam melacak penyebaran wabah yang sedang berlangsung ini.
Periode waktu yang dianalisis mencakup rentang yang cukup panjang, yakni mulai dari November 2025 hingga Juni 2026. Dalam kurun waktu tersebut, otoritas kesehatan berhasil mengonfirmasi total 106 kasus infeksi Salmonella Stanley.
Kasus-kasus terkonfirmasi ini tidak hanya terjadi di satu negara, melainkan tersebar di 13 negara anggota Uni Eropa/Kawasan Ekonomi Eropa (EU/EEA), ditambah dengan catatan kasus di Inggris Raya. Penyebaran yang luas ini menunjukkan sifat wabah yang sangat serius dan memerlukan respons lintas batas.
Kelompok usia yang paling terdampak oleh wabah ini adalah anak-anak dan juga kelompok dewasa muda. Kondisi kesehatan yang memburuk akibat infeksi ini memaksa sejumlah besar pasien untuk mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan.
Secara keseluruhan, setidaknya 49 individu yang terinfeksi Salmonella Stanley dilaporkan harus menjalani perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Angka ini menggarisbawahi potensi keparahan penyakit yang ditularkan melalui kontaminasi makanan ini.
Negara-negara yang melaporkan adanya kasus terkonfirmasi dalam wabah ini meliputi Austria, Ceko, Denmark, Estonia, Prancis, Jerman, Hungaria, Latvia, Lithuania, Belanda, Norwegia, Polandia, Swedia, serta Inggris. Sebaran geografis ini menunjukkan tantangan besar dalam pengendalian kontaminasi.
Dikutip dari European Food Safety Authority (EFSA) dan European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), "Dugaan ini diperkuat oleh bukti yang mengaitkan kasus-kasus tersebut dengan produk dari merek yang sama," sebagaimana tertuang dalam penilaian cepat yang mereka rilis.