JAKARTAHYPE.COM - Peningkatan signifikan kasus penyakit campak dilaporkan terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia, memicu perhatian serius dari berbagai pihak terkait kesehatan. Menanggapi hal ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan ilmiah mengenai penyebab dan sejarah penyakit menular tersebut.
Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN, Harimat Hendarwan, menjadi narasumber utama dalam menjelaskan karakteristik virus penyebab campak. Ia menguraikan bahwa campak disebabkan oleh measles virus, sebuah virus RNA beruntai tunggal yang berselubung dan beruntai negatif.
Virus ini secara taksonomi termasuk dalam genus Morbillivirus yang berada dalam famili Paramyxoviridae. Informasi ini penting untuk memahami bagaimana virus tersebut berinteraksi dan menginfeksi inangnya dalam skala populasi besar.
"Sejauh ini, manusia adalah satu satunya inang alami," ungkap Harimat, dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (4/5/2026). Penegasan ini menunjukkan bahwa meskipun penularan terjadi antarmanusia, asal-usulnya memiliki keterkaitan historis dengan spesies lain.
Lebih lanjut, Harimat memaparkan bahwa virus campak merupakan hasil evolusi dari Rinderpest, penyakit mematikan yang dahulu sering menyerang populasi sapi. Diperkirakan proses lompatan spesies dari hewan ternak ke manusia terjadi sekitar abad ke-6 Sebelum Masehi, seiring dengan peningkatan populasi manusia dan domestikasi sapi.
Menurut Harimat, campak dikenal sebagai salah satu penyakit virus yang paling mudah menular di antara semua penyakit virus yang ada. Penularan sangat efektif terjadi melalui kontak langsung dengan cairan pernapasan dari individu yang terinfeksi, baik melalui batuk maupun bersin.
"Bahkan disebutkan dapat tertular hanya dengan masuk ke ruangan tempat penderita berada," jelas Harimat, menggarisbawahi tingkat penularan yang tinggi pada mereka yang belum mendapatkan vaksinasi.
Data menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 63.769 kasus suspek campak di Indonesia, dengan 11.095 di antaranya terkonfirmasi laboratorium dan menyebabkan 69 kematian (CFR 0,1%).
Sementara itu, perkembangan di awal tahun 2026, hingga minggu ke-7, Kementerian Kesehatan mencatat 8.224 kasus suspek, 572 terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05%). Periode yang sama juga mencatat 21 Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek dan 13 KLB campak terkonfirmasi di 17 kabupaten/kota dalam 11 provinsi.