JAKARTAHYPE.COM - Misteri kain kafan Turin yang selama ini diyakini sebagai pembungkus jenazah Yesus Kristus kini memasuki babak baru setelah ditemukannya jejak DNA yang tidak biasa. Penelitian terbaru mengungkap keberadaan berbagai materi genetik tanaman yang memicu diskusi mendalam mengenai asal-usul artefak bersejarah tersebut.
"Sebanyak 31 persen DNA yang ditemukan di dalam kain tersebut berasal dari wortel, gandum, jagung, hingga tanaman seperti kelapa sawit dan kacang tanah," ungkap para peneliti dilansir dari CNBC Indonesia. Temuan ini juga mencakup jejak rumput, pisang, almond, kenari, serta buah jeruk yang menempel pada serat kain.
Selain flora, kain bersejarah ini juga menyimpan materi genetik dari berbagai jenis fauna yang pernah bersentuhan dengannya di masa lalu. DNA kucing dan anjing mendominasi sekitar 44 persen dari total temuan hewan, di samping jejak ayam, sapi, kambing, hingga kuda, rusa, dan kelinci.
"Kami juga menemukan keberadaan DNA manusia dari berbagai individu, termasuk jejak genetik dari orang yang mengumpulkan sampel kain ini pada tahun 1978 silam," kata para peneliti dalam laporan tersebut. Keberadaan DNA bakteri juga terdeteksi cukup signifikan, yakni mencapai angka 10 hingga 30 persen di dalam kain.
Salah satu temuan yang paling menarik adalah adanya DNA karang merah Mediterania pada kain berukuran 4,4 x 1,1 meter tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa kain kafan itu kemungkinan besar pernah dikirimkan atau melewati wilayah perairan Mediterania dalam sejarah perjalanannya.
"Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh dari India serta indikasi bahwa kain ini dibawa dari Dunia Lama ke Dunia Baru sekitar seribu tahun setelah masa Yesus Kristus," papar para peneliti. Fakta ini menambah kompleksitas sejarah perpindahan kain kafan tersebut antarbenua.
Keberadaan tanaman seperti kentang, cabai, dan tomat pada kain tersebut menjadi poin krusial dalam analisis keaslian artefak ini. Mengingat tanaman-tanaman tersebut merupakan flora asli Amerika dan Asia yang baru diperkenalkan ke penduduk Eropa pada abad ke-16, muncul keraguan besar terhadap usia kain.
Berdasarkan data sejarah, kain ini pertama kali tercatat muncul di desa Lirey, Perancis Utara, pada tahun 1354 silam. Banyak pihak menduga bahwa kain kafan Turin merupakan barang palsu yang diproduksi pada abad pertengahan, bukan berasal dari zaman penyaliban.
"Penampakan samar gambar seorang pria pada kain kemungkinan besar terjadi karena kain lama tersebut tergeletak di atas sebuah pahatan yang rendah dalam waktu yang lama," jelas para peneliti mengenai studi yang dilakukan dua tahun lalu. Temuan ini menantang keyakinan lama mengenai noda yang sebelumnya diyakini sebagai darah.