JAKARTAHYPE.COM - Microsoft mengambil langkah strategis untuk melakukan penyesuaian tenaga kerja tanpa harus menggelar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Keputusan ini diambil seiring dengan upaya perusahaan untuk memfokuskan sumber daya pada peningkatan investasi di bidang Kecerdasan Buatan (AI).

Langkah restrukturisasi ini diwujudkan melalui penawaran program pensiun dini sukarela yang menyasar sekitar 7% dari total karyawan mereka yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Program ini merupakan alternatif dari PHK besar-besaran yang banyak dilakukan oleh perusahaan teknologi lainnya.

Opsi pensiun dini ini secara spesifik ditujukan bagi karyawan yang memenuhi kriteria kombinasi usia dan masa kerja, yaitu total mencapai 70 tahun atau lebih. Selain itu, program ini hanya terbuka bagi mereka yang menduduki posisi setara direktur senior ke bawah.

Para karyawan yang memenuhi syarat tersebut baru akan menerima informasi resmi mengenai penawaran ini dari pihak perusahaan pada tanggal 7 Mei 2026 mendatang. Hingga saat ini, belum ada rincian resmi mengenai besaran paket pesangon yang akan diterima oleh para peserta program ini.

Sebagai gambaran, standar pesangon yang biasa diterapkan oleh Microsoft cenderung cukup kompetitif dibandingkan dengan perusahaan teknologi besar lainnya. Standar tersebut umumnya mencakup pembayaran gaji pokok selama 12 minggu.

Selain gaji pokok tersebut, paket pesangon Microsoft biasanya ditambahkan dengan kompensasi ekstra berupa dua minggu gaji untuk setiap tahun masa kerja karyawan yang bersangkutan. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam memberikan apresiasi kepada masa bakti mereka.

Dilansir dari CNN Internasional, paket pesangon Microsoft terlihat lebih besar jika dibandingkan dengan penawaran dari pesaing, seperti Meta yang pada tahun 2022 hanya menawarkan 16 minggu gaji pokok, atau Google yang menawarkan 14 minggu gaji pokok.

Penawaran pensiun dini ini dilakukan setelah Microsoft sempat melakukan pemecatan terhadap 9.000 pekerja pada pertengahan tahun sebelumnya. Terkait PHK tersebut, CEO Satya Nadella sempat menjelaskan arah prioritas bisnis perusahaan.

"Pergeseran platform tidak hanya membentuk ulang produk yang dibuat dan model bisnis yang dijalankan, namun bagaiman kita terstruktur dan bekerja sama setiap hari. Mungkin akan terasa tidak teratur selama beberapa waktu, namun transformasi memang selalu sepeti ini," jelas Nadella.