JAKARTAHYPE.COM - Pangeran Hisahito dari Jepang akan memasuki usia 20 tahun pada bulan September mendatang, menjadikannya satu-satunya pewaris takhta dari generasi Z. Saat ini, ia diproyeksikan sebagai wajah masa depan monarki Jepang, namun muncul pertanyaan signifikan mengenai kesiapannya untuk memikul tanggung jawab kekaisaran.
Saat ini, jumlah calon penerus takhta Jepang sangat terbatas, hanya menyisakan tiga nama: Putra Mahkota Fumihito (60 tahun), Pangeran Hisahito, dan Pangeran Hitachi yang telah berusia 90 tahun. Kondisi demografis ini telah memicu diskusi serius mengenai keberlanjutan garis suksesi kerajaan yang semakin mengandalkan pewaris laki-laki.
Di tengah sorotan publik tersebut, Pangeran Hisahito menjalani kehidupan akademik yang cukup aktif sebagai mahasiswa tahun kedua di Universitas Tsukuba. Ia diketahui memiliki minat pada olahraga, bahkan dilaporkan pernah meraih juara dalam turnamen bulu tangkis ganda campuran tahun lalu.
Musim panas ini, agenda Pangeran Hisahito mencakup program lapangan intensif selama enam hari yang berfokus pada studi biologi. Kegiatan tersebut akan meliputi observasi serangga, pembuatan spesimen, hingga sesi praktik pembedahan.
Demi menjaga privasi sang pangeran, organisasi mahasiswa yang diikutinya telah memberlakukan aturan ketat terkait penyebaran informasi atau unggahan di platform media sosial. Hal ini menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara kehidupan kampus dan peranannya sebagai anggota keluarga kekaisaran.
Meskipun demikian, beberapa pengamat menilai bahwa persiapan akademik Hisahito saat ini tampak lebih condong pada kehidupan universitas dibandingkan persiapan khusus sebagai calon kaisar. Hal ini disampaikan oleh seorang akademisi senior Jepang.
"Sejak upacara kedewasaannya, ia memang sesekali menjalankan tugas resmi bersama keluarganya. Namun pengalamannya masih lebih sedikit dibandingkan kaisar saat ini maupun kaisar emeritus ketika berada di usia yang sama," ujar Profesor emeritus Yuji Odabe, Dikutip dari Japan Today.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada metode pendidikan kekaisaran yang diterima Hisahito, yang dinilai berbeda dari generasi sebelumnya. Jurnalis Shuichi Kanda mencontohkan bagaimana Kaisar Naruhito menerima pembelajaran langsung.
"Beliau mendengarkan langsung pandangan Kaisar Showa tentang bagaimana keluarga kekaisaran harus berjalan bersama rakyat," kata jurnalis Shuichi Kanda, merujuk pada interaksi antara Kaisar Naruhito dan kakeknya, Kaisar Showa.