JAKARTAHYPE.COM - Tren kecantikan terbaru tengah merebak di platform digital seperti Instagram dan TikTok, kali ini berfokus pada bagian mulut yang jarang tersentuh, yaitu gigi. Fenomena yang dikenal sebagai tooth gem ini melibatkan pemasangan aksesori kecil seperti kristal atau permata pada permukaan gigi.
Di kalangan Generasi Z (Gen Z), tren ini dengan cepat menjadi populer sebagai cara baru untuk mengekspresikan identitas diri yang unik. Mereka melihatnya sebagai perpanjangan dari kebiasaan mengkustomisasi karakter dalam dunia digital yang kini diaplikasikan pada penampilan fisik sehari-hari.
Hal ini menjadi evolusi dari eksperimen penampilan yang sebelumnya sering dilakukan pada rambut, kuku, hingga alis. Kini, gigi pun turut menjadi media untuk sentuhan personalisasi yang mencolok dan berkilau.
Meskipun beberapa orang menyebutnya sebagai tooth piercing, proses pemasangannya sebenarnya tidak melibatkan tindikan atau pelubangan pada gigi. Hiasan dekoratif tersebut ditempelkan menggunakan perekat gigi khusus.
Proses penempelan ini kemudian diperkuat dengan penyinaran menggunakan alat yang biasa dipakai dalam prosedur perawatan gigi konvensional. Hasilnya adalah tampilan gigi yang seolah-olah dihiasi perhiasan kecil tanpa merusak struktur alami gigi.
Dilansir dari artikel aslinya, tren ini dianggap lebih mudah diakses dibandingkan tindik konvensional karena sifatnya yang non-invasif. Hal ini memungkinkan pengguna untuk menikmati estetika baru tanpa komitmen jangka panjang yang rumit.
Konsep perhiasan gigi sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru dalam sejarah budaya populer. Sebelumnya, dunia musik hip-hop telah mempopulerkan penggunaan grills atau gigi berlian sebagai penanda gaya dan identitas tertentu.
Namun, Gen Z berhasil membawa estetika yang awalnya terbatas pada subkultur tertentu ini menjadi fenomena arus utama yang lebih luas. Hal ini mencerminkan perubahan pandangan masyarakat terhadap konsep kecantikan.
Saat ini, tubuh semakin dilihat sebagai "proyek" yang dinamis dan dapat terus diperbarui sesuai dengan keinginan individu. "Di era media sosial, tubuh semakin sering diperlakukan sebagai proyek yang terus diperbarui," tulis artikel tersebut.