JAKARTAHYPE.COM - Jakarta, CNBC Indonesia menjadi saksi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini telah memberikan guncangan signifikan terhadap berbagai sektor global. Inovasi AI bahkan kerap dikaitkan sebagai salah satu faktor yang memicu kondisi pasar kerja yang cenderung melambat.
Raksasa teknologi saat ini tengah melakukan restrukturisasi besar-besaran, termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), demi efisiensi dan mengalihkan fokus investasi menuju pengembangan AI yang lebih mutakhir. Adopsi AI dalam operasional bisnis menyebabkan banyak perusahaan mengurangi perekrutan karyawan baru.
Di sisi lain, pengembangan AI yang masif memerlukan infrastruktur pusat data (data center) berskala besar, yang menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak negatif terhadap lingkungan, terutama konsumsi energi listrik dan air yang tinggi. Selain itu, terdapat kekhawatiran sosial terkait penyebaran disinformasi dan deepfake yang semakin mudah dimungkinkan oleh teknologi AI.
Meskipun terdapat sejumlah risiko dan potensi kerugian, pengembangan AI terus berjalan karena dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Belakangan ini, muncul kabar mengenai pengembangan tahap lanjutan dari AI yang dikenal sebagai Artificial General Intelligence (AGI).
AGI didefinisikan sebagai bentuk kecerdasan buatan yang memiliki kapabilitas kognitif setara dengan kecerdasan manusia, mampu memahami, belajar, menalar, dan mengaplikasikan pengetahuan untuk menyelesaikan tugas-tugas intelektual yang kompleks. Singkatnya, AGI adalah evolusi AI yang lebih cerdas dan membutuhkan intervensi manusia yang jauh lebih minimal dalam eksekusi tugas.
Kekhawatiran mengenai dampak AGI yang berpotensi lebih luas dibandingkan AI konvensional semakin meningkat seiring dengan kemajuannya. Dalam upaya merespons perkembangan ini, Sam Altman, salah satu tokoh kunci dalam tren adopsi AI pasca peluncuran ChatGPT, menuliskan prinsip perusahaan pada 26 April 2026 di laman resmi OpenAI.
Altman menekankan potensi besar teknologi ini untuk meningkatkan kualitas hidup manusia di berbagai lini kehidupan. "Apa yang dapat dilakukan manusia dengan AI akan jauh melampaui apa yang dapat dilakukan manusia dengan mesin uap atau listrik," kata Altman, dikutip dari laman resmi OpenAI, Senin (27/4/2025).
Namun, Altman menyadari bahwa manfaat maksimal dari AI berisiko hanya terpusat pada segelintir pihak atau perusahaan saja. Oleh karena itu, OpenAI menetapkan lima prinsip utama yang akan memandu pengembangan AGI tahap lanjut, memastikan manfaatnya dapat diterima oleh semua pihak.
"Misi kami adalah memastikan bahwa AGI bermanfaat bagi seluruh umat manusia," ia menuliskan, menegaskan komitmen OpenAI dalam pengembangan teknologi tersebut.