Jakarta, JakartaHype.com - Indonesia mulai memasuki fase transisi cuaca yang tidak menentu. Fenomena pancaroba, yang menandai berakhirnya musim hujan menuju musim kemarau, kini tengah berlangsung di berbagai pelosok negeri. Meski matahari mulai terik, BMKG memperingatkan bahwa ancaman hujan lebat dan angin kencang masih mengintai di balik awan.

Transisi Bertahap Hingga Juni

Berdasarkan analisis klimatologi terbaru, masa peralihan musim tahun ini diprediksi membentang sepanjang Maret hingga Mei. BMKG membagi dimulainya musim kemarau ke dalam tiga gelombang utama:

Fase Awal (April): Sekitar 16,3% wilayah Indonesia mulai merasakan penurunan curah hujan.

Fase Menengah (Mei): Puncak masa transisi, di mana 26,3% wilayah resmi masuk musim kemarau.

Fase Akhir (Juni): Menambah 23,3% wilayah lainnya yang menyusul kering.

Indikator utama perubahan ini terlihat pada pergerakan angin zonal yang kini didominasi oleh angin timuran (Monsun Australia), sebuah pertanda bahwa uap air mulai berkurang namun ketidakstabilan udara masih tinggi.

Waspada Gejala Khas Pancaroba

Selama masa peralihan ini, masyarakat diminta tidak lengah terhadap perubahan atmosfer yang bergerak cepat. BMKG menyoroti beberapa ciri utama pancaroba yang sedang terjadi: