JAKARTAHYPE.COM - Fenomena gangguan pencernaan yang sering dialami pelari, terutama menjelang atau saat kompetisi, kini dikenal luas dengan sebutan runner's trot. Kondisi ini ditandai dengan dorongan mendesak untuk buang air besar (BAB) yang sulit ditahan, bahkan dalam kasus ekstrem dapat berujung pada inkontinensia.
Masalah pencernaan ini menjadi sorotan, terutama karena banyak ajang lari diselenggarakan pada pagi hari, yang merupakan waktu alami bagi banyak orang untuk melakukan aktivitas BAB. Kejadian ini telah menjadi topik diskusi yang cukup hangat di berbagai platform media sosial.
Runner’s trot secara spesifik merujuk pada situasi ketika seseorang merasakan desakan kuat untuk buang hajat selama atau segera setelah sesi berlari. Keadaan ini terkadang berkembang menjadi diare akut yang sangat sulit dikendalikan oleh penderitanya.
Keanu Reeves Blak-blakan Soal Hubungan 7 Tahun dengan Alexandra Grant: "Dia Mudah Dicintai"
Fenomena ini cenderung lebih sering menyerang pelari yang menempuh jarak jauh, atlet dari kelompok usia muda, serta pelari wanita. Waktu pelaksanaan lomba yang umumnya pagi hari turut memperburuk kondisi karena bertepatan dengan ritme alami tubuh.
Pelari jarak jauh, baik atlet maupun penghobi, dapat mengalami berbagai indikasi gangguan sistem pencernaan saat latihan maupun bertanding. Tingkat keparahan gejala ini sering kali meningkat seiring bertambahnya jarak tempuh yang berhasil dilalui.
Gejala fisik yang umum muncul mencakup kembung, kram perut, diare, gejala maag, rasa mual, hingga potensi muntah. Selain itu, ada juga laporan mengenai nyeri dada, ketidakmampuan mengontrol BAB (inkontinensia feses), bahkan adanya darah dalam feses.
Gangguan pencernaan ini berakar pada perubahan distribusi aliran darah dalam tubuh saat berolahraga intensif. Saat berlari, suplai darah akan dialihkan dan diprioritaskan menuju otot-otot utama yang bekerja keras untuk pergerakan.
"Gangguan pada sistem pencernaan ini terjadi akibat berkurangnya pasokan darah menuju area usus," demikian dijelaskan dalam analisis mengenai kondisi ini. Penurunan aliran darah ke usus besar secara otomatis mengurangi asupan oksigen dan nutrisi vital di area tersebut.
"Jika olahraga dilakukan dengan intensitas tinggi, kombinasi antara minimnya aliran darah dan dehidrasi dapat memicu diare mendesak serta kolitis iskemik," tambah sumber tersebut. Kondisi ini menunjukkan kaitan erat antara intensitas lari dan kesehatan usus.