JAKARTAHYPE.COM - Kebiasaan membaca kutipan mengenai kematian setiap hari dijalani oleh jurnalis senior bernama Kara Swisher. Rutinitas ini mungkin terdengar tidak biasa atau bahkan menyeramkan bagi banyak orang.
Namun, Swisher justru mengakui bahwa praktik unik ini secara signifikan membuatnya merasa jauh lebih bahagia dalam menjalani hidupnya.
Aktivitas kontemplatif ini ternyata merupakan adaptasi dari praktik budaya yang berkembang di masyarakat Bhutan. Negara yang dikenal memiliki indeks kebahagiaan tinggi tersebut memiliki tradisi merenungkan konsep kematian hingga lima kali dalam sehari.
Praktik di Bhutan tersebut bertujuan untuk menjaga kesehatan mental warganya serta secara efektif meredam berbagai bentuk rasa cemas yang mungkin timbul dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini sejalan dengan pandangan Swisher yang melihat kematian sebagai katalisator positif dalam memaknai eksistensi manusia di dunia. Dilansir dari Detik Health, ia menjelaskan dampak filosofis dari penerimaan ini.
"Ketika menerima kematian... itu akan mendorong rasa kebersamaan dan menghadirkan makna hidup," ungkap Swisher, dikutip dari CNN, Jumat (29/5/2026).
Kutipan tersebut menekankan bahwa kesadaran akan kefanaan justru memperkuat ikatan sosial dan memberikan tujuan yang lebih mendalam pada keberadaan kita.
Swisher kemudian melanjutkan pemikirannya mengenai urgensi memanfaatkan waktu yang terbatas yang kita miliki di dunia ini. "Kami tidak akan hidup selamanya di sini. Jadi, apa yang mau dilakukan dengan sisa waktu yang dimiliki?" lanjutnya.
Secara umum, membicarakan atau merenungkan kematian seringkali dianggap sebagai topik tabu dalam banyak kalangan masyarakat di berbagai belahan dunia.