JAKARTAHYPE.COM - Misteri seputar umur panjang ekstrem, khususnya bagi mereka yang mencapai usia 100 tahun ke atas atau dikenal sebagai centenarian, kini mulai mendapatkan pencerahan ilmiah yang signifikan. Selama ini, faktor penentu utama dari pencapaian usia tersebut banyak dikaitkan dengan kombinasi antara warisan genetik dan disiplin gaya hidup.
Secara tradisional, para peneliti memperkirakan bahwa faktor genetik memegang peranan kunci, menyumbang sekitar 50 persen dari kemampuan seseorang untuk hidup sangat lama. Sisanya sangat bergantung pada pilihan gaya hidup yang dijalani sehari-hari oleh individu tersebut.
Gaya hidup sehat yang sering dikaitkan dengan umur panjang mencakup pola makan yang cenderung mengarah pada konsumsi nabati, menjaga aktivitas fisik secara rutin, serta memelihara jejaring hubungan sosial yang kuat. Faktor-faktor eksternal ini berperan besar dalam mendukung fungsi tubuh yang optimal seiring bertambahnya usia.
Namun, sebuah teka-teki besar mengenai perubahan metabolisme tubuh yang secara spesifik mendukung proses penuaan yang sehat kini berhasil dipecahkan oleh tim peneliti dari Amerika Serikat. Mereka fokus pada perubahan internal yang terjadi pada tubuh para centenarian.
Riset mutakhir ini dilakukan oleh para ilmuwan yang bernaung di bawah Boston University Chobanian & Avedisian School of Medicine. Mereka berhasil memetakan perbedaan mendasar dalam komposisi darah para lansia supercentenarian.
Temuan penting dari penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkemuka bernama GeroScience. Publikasi ini menjadi penanda kemajuan signifikan dalam pemahaman kita mengenai biologi penuaan ekstrem.
Melalui analisis mendalam, ilmuwan berhasil mengidentifikasi adanya pola molekul kecil, atau yang dikenal sebagai metabolit darah. Pola metabolit ini ditemukan sangat unik dan secara konsisten berbeda pada tubuh individu yang telah mencapai usia satu abad.
"Ilmuwan berhasil mengidentifikasi adanya pola molekul kecil atau metabolit darah yang sangat unik dan berbeda pada tubuh para lansia berumur satu abad," demikian temuan utama yang diangkat dari studi tersebut.
Dikutip dari Boston University Chobanian & Avedisian School of Medicine, studi ini memberikan landasan ilmiah baru untuk memahami mekanisme internal yang memungkinkan sejumlah orang mencapai usia panjang dengan kualitas kesehatan yang relatif baik.