JAKARTAHYPE.COM - Kisah luar biasa datang dari Johor, Malaysia, mengenai pasangan Ye Kaijie (39) dan He Yiling (38) yang tengah menjadi sorotan publik. Mereka berhasil membesarkan tujuh orang anak dalam rentang usia yang cukup muda, dengan dua di antaranya kini sudah menempuh pendidikan di bangku kuliah.
Pasangan ini menikah lebih dari dua dekade lalu setelah melalui masa pacaran singkat hanya tiga bulan. Keputusan pernikahan diambil mendadak karena adanya tradisi keluarga yang mengharuskan mereka menikah dalam waktu 100 hari setelah kematian para tetua dari kedua belah pihak.
Dilansir dari 8 days, Kaijie dan Yiling awalnya berencana untuk memiliki dua anak saja, namun rencana tersebut berubah seiring waktu. Mereka kini telah dikaruniai tujuh putra dan putri dengan usia yang beragam, mulai dari 21 tahun hingga empat tahun.
Dua anak tertua saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Malaya (teknik) dan Universitas Sains Malaysia (akuntansi), sementara anak ketiga sedang menimba ilmu di sekolah seni di Johor. Selain mengurus rumah tangga besar, pasangan ini juga mengelola sebuah taman kanak-kanak.
Sebagai pendidik, filosofi pengasuhan mereka sangat menekankan pada pemberian contoh daripada metode kuno seperti memarahi atau memukul anak. Mereka percaya bahwa perilaku orang tua akan dicontoh langsung oleh anak-anak mereka.
"Kita adalah panutan bagi anak-anak kita. Apa yang kita lakukan, akan mereka tiru," kata mereka berdua mengenai prinsip pengasuhan yang mereka pegang teguh.
Pasangan ini juga menerapkan aturan ketat terkait teknologi, di mana mereka menghindari penggunaan telepon genggam di sekitar anak-anak. Kepemilikan telepon pribadi baru diizinkan saat anak menginjak usia 10 tahun, utamanya untuk keperluan sekolah daring dan tugas.
Gaya pengasuhan Kaijie dan Yiling sangat fokus pada penegakan rutinitas yang disiplin, mendorong kemandirian sejak dini melalui jadwal makan, mandi, dan tidur yang ketat. Jika rutinitas ini dilanggar, anak-anak harus menerima konsekuensi alami seperti terlambat bangun atau sekolah.
Selain disiplin internal, keluarga ini rutin melakukan kegiatan pelayanan masyarakat, seperti mengunjungi panti jompo dan panti asuhan untuk membagikan kebutuhan pokok saat perayaan Tahun Baru Imlek. Mereka juga aktif memperkenalkan anak-anak pada keragaman budaya Malaysia, termasuk perayaan Hari Raya.