JAKARTAHYPE.COM - Dunia kecantikan di China kembali dikejutkan dengan munculnya standar fisik terbaru yang kini tengah viral di berbagai media sosial. Tren yang dikenal dengan sebutan high skull ini mengacu pada bentuk tengkorak kepala bagian atas yang terlihat lebih tinggi dan panjang.
Fenomena ini dianggap sebagai kunci untuk mendapatkan proporsi wajah yang ideal menurut standar kecantikan modern saat ini. Masyarakat setempat percaya bahwa bentuk kepala yang tinggi dapat memberikan kesan wajah yang lebih mungil, lembut, dan proporsional.
"Seseorang dinilai memiliki bentuk kepala ideal apabila jarak dari garis rambut ke puncak kepala lebih panjang dibandingkan jarak dari alis ke garis rambut," tulis narasi yang dikutip dari Oddity Central.
Awalnya, para peminat tren ini hanya menggunakan cara-cara sederhana untuk menciptakan ilusi kepala yang lebih tinggi. Berbagai produk kecantikan seperti jepit rambut penambah volume hingga penggunaan hairspray khusus sempat sangat populer untuk menunjang gaya rambut tersebut.
Namun, obsesi terhadap standar kecantikan ini perlahan bergeser ke arah tindakan medis yang lebih serius dan bersifat invasif. Banyak individu yang kini lebih memilih prosedur bedah atau suntikan demi mendapatkan struktur kepala yang permanen.
Salah satu metode yang cukup populer di kalangan masyarakat adalah penyuntikan asam hialuronat atau hyaluronic acid di bawah kulit kepala. Selain itu, penggunaan implan plastik hingga material medis ekstrem seperti semen tulang juga mulai banyak diminati.
"Semen tulang atau Polymethyl Methacrylate (PMMA) merupakan bahan medis yang biasanya digunakan dalam ortopedi untuk menstabilkan struktur tulang yang patah atau keropos," jelas keterangan teknis yang dikutip dari Oddity Central.
Prosedur yang disebut sebagai cranial augmentation ini dilakukan dengan membuat sayatan kecil sepanjang 3 hingga 6 sentimeter pada kulit kepala pasien. Dokter kemudian akan memasukkan bahan tertentu atau implan khusus berbahan PEEK yang dicetak menggunakan teknologi 3D agar sesuai dengan tulang pasien.
Meskipun menjanjikan hasil visual yang instan, prosedur pembentukan kepala ini ternyata menyimpan risiko kesehatan yang sangat mengkhawatirkan bagi para pelakunya. Beberapa pengguna media sosial di China mulai membagikan pengalaman pahit mereka setelah menjalani tindakan estetika tersebut.