JAKARTA, JakartaHype.com – Berdiri kokoh di kawasan strategis MT Haryono, Jakarta Selatan, Menara Saidah tetap menjadi teka-teki bagi warga ibu kota. Gedung perkantoran bergaya klasik Eropa ini telah dikosongkan selama lebih dari satu dekade, menyimpan perpaduan antara persoalan teknis struktural dan berbagai legenda urban yang berkembang di masyarakat.
Masa Kejayaan dan Arsitektur Megah
Menara Saidah dibangun pada era 1990-an sebagai gedung perkantoran prestisius. Dengan tinggi 28 lantai, bangunan ini menonjol karena arsitektur klasiknya yang unik di tengah deretan gedung modern Jakarta. Interiornya pun dirancang mewah dengan penggunaan ornamen marmer dan desain elegan, menjadikannya salah satu lokasi perkantoran yang paling diminati perusahaan besar pada masanya.
Namun, masa kejayaan gedung milik keluarga Saidah ini tidak bertahan lama. Memasuki awal tahun 2000-an, operasional gedung mulai terganggu hingga puncaknya pada tahun 2007, saat gedung ini resmi dikosongkan sepenuhnya. Sejak saat itu, Menara Saidah bertransformasi dari simbol kemewahan menjadi bangunan terbengkalai.
Masalah Struktur: Fondasi yang Miring
Penyebab utama di balik pengosongan Menara Saidah adalah masalah teknis pada fondasi bangunan. Berdasarkan laporan teknis, gedung ini diketahui mengalami kemiringan yang dinilai membahayakan keselamatan penghuninya dalam jangka panjang.
Masalah ini diduga dipicu oleh kondisi tanah di lokasi pembangunan yang kurang stabil, menyebabkan penurunan permukaan tanah yang tidak merata. Dalam dunia konstruksi, perbaikan untuk masalah kemiringan pada gedung tinggi memerlukan biaya yang sangat besar dan proses yang sangat kompleks, sehingga pemanfaatannya kembali menjadi sulit dilakukan.
Kendala Pembongkaran dan Status Kepemilikan
Meski dianggap membahayakan dan telah lama kosong, Menara Saidah tidak kunjung dirobohkan. Terdapat beberapa faktor utama yang menghambat proses tersebut. Pertama adalah lokasi gedung yang berada di kawasan padat aktivitas dan sangat dekat dengan infrastruktur vital, termasuk jalur Light Rail Transit (LRT). Proses pembongkaran gedung setinggi itu di area sempit memerlukan perencanaan matang agar tidak berdampak pada lingkungan sekitar.
Faktor kedua adalah status kepemilikan. Sebagai aset swasta milik keluarga Saidah, pemerintah tidak memiliki wewenang penuh untuk melakukan pembongkaran sepihak tanpa persetujuan pemilik sah. Hingga kini, belum ada keputusan final terkait rencana renovasi maupun penghancuran gedung tersebut.
Ikon Horor Urban Jakarta
Kekosongan yang berlangsung bertahun-tahun melahirkan reputasi baru bagi Menara Saidah sebagai lokasi angker. Muncul rumor bahwa gedung ini dibangun di atas lahan bekas pemakaman, yang kemudian memicu berbagai kisah mistis.
Cerita mengenai sosok "Kuntilanak Merah", fenomena lampu yang menyala sendiri, hingga pengalaman mistis pengemudi ojek daring sering menjadi buah bibir masyarakat. Meski sulit dibuktikan secara ilmiah, narasi-narasi ini telah melekat kuat dan menjadikan Menara Saidah sebagai salah satu ikon horor urban paling terkenal di Jakarta.