JAKARTAHYPE.COM - Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) kini mulai menimbulkan kekhawatiran signifikan di kalangan masyarakat Amerika Serikat mengenai prospek masa depan pekerjaan mereka. Isu ini menjadi perhatian utama seiring dengan semakin terintegrasinya teknologi AI dalam berbagai sektor industri.

Sebuah survei terkini yang diselenggarakan bersama oleh Reuters dan Ipsos baru-baru ini mengungkap tingkat kegelisahan publik yang cukup tinggi terkait potensi AI dalam menggeser peran manusia di dunia kerja. Hasil survei ini memberikan gambaran jelas tentang sentimen masyarakat saat ini.

Fokus utama dari temuan survei tersebut adalah persentase responden yang merasa terancam oleh otomatisasi berbasis AI. Secara spesifik, sebanyak 53% partisipan menyatakan adanya rasa khawatir yang mendalam.

Kekhawatiran ini muncul karena mereka meyakini bahwa teknologi AI memiliki kapabilitas untuk menggantikan fungsi dan tugas pekerjaan yang saat ini tengah mereka jalankan. Angka ini menunjukkan adanya ketidakpastian besar di benak pekerja Amerika.

Proses pengumpulan data survei ini dilaksanakan selama periode enam hari penuh, memberikan rentang waktu yang cukup untuk menangkap opini publik secara representatif. Periode waktu ini penting untuk validitas temuan yang dihasilkan.

Menariknya, kegelisahan mengenai ancaman pengangguran akibat AI ini ternyata tidak terbatas pada kelompok usia atau latar belakang tertentu saja. Kekhawatiran tersebut terdistribusi secara cukup merata di seluruh lini demografi responden.

"Sebanyak 53% partisipan mengaku merasa khawatir bahwa teknologi AI berpotensi menggantikan peran pekerjaan yang saat ini mereka emban," demikian hasil temuan utama dari survei tersebut.

Lebih lanjut, survei ini menggarisbawahi bahwa sentimen kecemasan ini tidak pandang bulu, karena "Kekhawatiran ini terdistribusi cukup merata tanpa memandang batasan usia, jenis kelamin, maupun tingkat pendidikan responden," kata juru bicara Ipsos.

Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, temuan ini menegaskan bahwa adopsi AI yang semakin masif memerlukan perhatian serius dari pembuat kebijakan mengenai mitigasi dampak sosial dan ekonomi terhadap tenaga kerja.