JAKARTAHYPE.COM - Meta sedang menggarap proyek ambisius dengan menciptakan versi kecerdasan buatan (AI) dari CEO mereka, Mark Zuckerberg. Inovasi ini dirancang khusus untuk merespons berbagai pertanyaan dari para staf perusahaan secara otomatis dalam berbagai kesempatan rapat.
Kloningan digital ini kabarnya dilatih secara mendalam menggunakan gaya bicara, intonasi suara, hingga perspektif publik Zuckerberg mengenai strategi perusahaan. Langkah ini diambil agar sekitar 79.000 karyawan Meta tetap bisa merasakan kehadiran sang pemimpin meski secara fisik ia berhalangan hadir.
Proyek rahasia ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara karyawan dengan salah satu figur paling berpengaruh di Silicon Valley, dilansir dari Financial Times. Karakter AI tersebut dikembangkan dengan mereplikasi citra visual dan rekaman suara asli Zuckerberg secara detail dengan keterlibatan langsung sang CEO dalam pelatihannya.
"Karakter AI tersebut akan dikembangkan secara utuh menggunakan gambar dan suara asli milik Zuckerberg," ungkap seorang sumber yang memahami proyek tersebut sebagaimana dilansir dari The Guardian.
Meta memiliki keyakinan besar bahwa eksperimen internal ini nantinya bisa diadopsi secara luas oleh para influencer dan kreator konten. Hal ini menjadi solusi bagi pelaku ekonomi digital yang sedang mencari cara efektif untuk mengelola avatar digital mereka di masa depan.
Ambisi Zuckerberg dalam menciptakan representasi digital dirinya sebenarnya bukan hal baru, mengingat ia pernah memperkenalkan avatar metaverse pada tahun 2022. Namun, saat itu kualitas grafisnya sempat menuai kritik pedas dan ejekan dari masyarakat luas sebelum akhirnya ia mengunggah versi yang diperbarui.
Meskipun ambisi metaverse mulai diredam, Meta kini lebih fokus pada pengembangan karakter 3D berbasis AI yang mampu berinteraksi secara natural. Fokus utama perusahaan saat ini adalah menyempurnakan asisten virtual yang menyerupai Zuckerberg untuk keperluan komunikasi internal sehari-hari.
"Ketika Anda mengintegrasikan video dan suara AI yang realistis, tingkat keterlibatan serta retensi informasi akan meningkat secara signifikan," kata juru bicara Synthesia.
"Karyawan cenderung bekerja dengan lebih baik saat informasi penting disampaikan melalui wajah atau suara yang sudah mereka kenal," tambah juru bicara dari startup AI asal Inggris bernilai US$4 miliar tersebut.