JAKARTAHYPE.COM - Tiyo Ardianto, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Gadjah Mada (UGM), dilaporkan baru-baru ini mengalami serangkaian tindakan teror yang mengancam keselamatannya. Tindakan intimidasi ini diduga terkait dengan aktivitasnya sebagai aktivis dan kritik yang disampaikannya terhadap pemerintah.

Peristiwa teror terbaru yang menimpa Tiyo adalah dugaan penguntitan menggunakan perangkat pelacak elektronik yang terpasang secara tersembunyi pada mobil yang ia gunakan. Perangkat tersebut ditemukan dalam kondisi terpasang di bagian bawah mobil saudara yang sedang dipinjamnya untuk mobilitas.

Penemuan alat pelacak ini terjadi setelah Tiyo Ardianto turut serta dalam aksi demonstrasi yang dikenal sebagai Gejayan Memanggil. Demonstrasi tersebut diselenggarakan di Yogyakarta pada hari Sabtu, 13 Juni 2026, yang menjadi titik balik dalam rangkaian teror yang dialaminya.

Perangkat yang ditemukan tersebut diidentifikasi sebagai PBX Finder, sebuah alat yang biasa digunakan untuk melacak lokasi kendaraan secara real-time. Penemuan ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai privasi dan keamanan pribadi Tiyo Ardianto.

Selain teror fisik berupa pelacakan, Tiyo juga pernah menjadi sasaran serangan siber yang ditujukan untuk merusak citranya di mata publik dan keluarga. Serangan ini berupa pesan fitnah yang dikirimkan kepada ibundanya melalui aplikasi WhatsApp.

Pesan-pesan digital tersebut menuduh Tiyo Ardianto melakukan penggelapan dana yang bersumber dari Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K). Tuduhan tersebut muncul setelah Tiyo secara vokal menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan mahasiswa.

Dikutip dari Tempo, Tiyo Ardianto pernah diwawancarai di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, pada tanggal 24 Februari 2026. Waktu ini menjadi momen penting saat ia pertama kali membeberkan beberapa insiden yang menimpanya.

"Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menjadi sasaran serangan siber berupa fitnah penggelapan dana KIP-K," demikian keterangan yang tertera pada dokumentasi wawancara tersebut. Narasi ini menyoroti upaya sistematis untuk mendiskreditkan dirinya.

Lebih lanjut, "Pesan tersebut dikirimkan kepada ibundanya via WhatsApp untuk merusak reputasinya setelah vokal mengkritik kebijakan pemerintah," demikian diungkapkan dalam konteks pemberitaan mengenai serangan daring tersebut.