JAKARTAHYPE.COM - Jakarta - Kondisi geografis Pulau Jawa kini berada dalam bayang-bayang ancaman serius akibat fenomena penurunan muka tanah yang terus berlangsung secara masif. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa daratan di pulau terpadat ini semakin ambles dan memicu risiko banjir rob besar di masa depan.
Tim peneliti telah melakukan pemetaan mendalam mengenai penurunan muka tanah di seluruh wilayah kota dan desa di Pulau Jawa. Hasil studi tersebut menunjukkan adanya tingkat subsidi tanah yang berkisar antara 1 hingga 15 sentimeter setiap tahunnya.
Angka penurunan ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena telah melampaui rata-rata kenaikan permukaan laut secara global. Melalui pengamatan satelit dan proyeksi ilmiah, para ahli mulai memetakan dampak signifikan yang akan terjadi pada garis pantai di tahun 2050 mendatang.
Penurunan permukaan tanah diprediksi akan menyumbang hingga 85 persen dari total kenaikan permukaan air laut di sebagian besar wilayah pesisir. Kondisi ini secara otomatis memperparah kerentanan wilayah terhadap bencana banjir yang datang dari arah laut.
Data penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 75 persen garis pantai di Pulau Jawa berisiko tinggi mengalami banjir akibat fenomena amblesnya tanah ini. Hal tersebut terungkap dalam studi yang diterbitkan oleh Science Advanced, sebagaimana dilansir dari CNBC Indonesia.
Menariknya, penelitian tersebut menemukan bahwa penyebab utama amblesnya tanah di Jawa bukanlah faktor perubahan iklim semata. Aktivitas manusia yang tidak terkendali justru menjadi pendorong utama di balik kerusakan struktur tanah di wilayah tersebut.
"Apabila kita terus mengabaikan fenomena ini, maka pada dasarnya kita sedang meremehkan risiko besar yang mengintai keselamatan wilayah tersebut," ujar Manoochehr Shirzaei, salah satu penulis studi dari Virginia Tech, dilansir dari Eureka Alert pada Selasa (14/4/2026).
Beberapa faktor pemicu utamanya meliputi pengambilan air tanah secara masif di kawasan perkotaan serta penggunaan air untuk sektor pertanian yang berlebihan. Selain itu, ekstraksi industri dan proses pemadatan alami di wilayah delta turut mempercepat laju penurunan permukaan tanah.
"Penurunan permukaan tanah sebenarnya masih bisa diatasi melalui pengelolaan lokal yang tepat, kebijakan yang kuat, pembangunan infrastruktur, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan," kata Manoochehr Shirzaei.