JAKARTAHYPE.COM - Sejak 24 Juli ditetapkan sebagai Hari Kebaya Nasional pada tahun 2024, publik diajak untuk melihat busana ini lebih dari sekadar pakaian tradisional. Sebuah disertasi doktoral mengungkap fakta menarik tentang asal-usul kebaya modern yang ternyata menyimpan kompleksitas sejarah.

Penelitian mendalam dilakukan oleh desainer sekaligus peneliti sejarah, Lenny Agustin Ernawati, dalam disertasi doktoralnya di Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Judul disertasi tersebut menyoroti 'Kebaya Modern sebagai Busana Nasional Wanita Indonesia pada Era Orde Baru: Relasi Kuasa, Politik Kebudayaan, dan Tubuh Perempuan'.

Penelitian ini mengajak masyarakat untuk memandang kebaya bukan hanya dari aspek keindahan visualnya. Lebih dari itu, kebaya diposisikan sebagai bagian integral dari narasi sejarah politik, pembentukan identitas bangsa, serta evolusi peran perempuan Indonesia.

Banyak anggapan umum yang menyatakan kebaya adalah busana tradisional dengan bentuk yang tak pernah berubah. Namun, temuan sejarah menunjukkan gambaran yang jauh berbeda dan lebih dinamis dari anggapan tersebut.

Lenny Agustin Ernawati menjelaskan bahwa kebaya merupakan hasil akulturasi budaya yang kaya sejak berabad-abad lalu. Pengaruh dari budaya Arab, Persia, India, Tionghoa, hingga Eropa turut membentuk evolusi kebaya di Nusantara.

"Sejarah kebaya menunjukkan bahwa busana ini tidak lahir sebagai tradisi tunggal yang statis, melainkan hasil perjumpaan panjang berbagai budaya," ujar Lenny Agustin Ernawati dalam ringkasan disertasi penelitiannya. Kebaya hadir dan berkembang di berbagai lingkungan, mulai dari keraton, masyarakat kolonial, komunitas peranakan, hingga kota-kota pelabuhan.

Sebelum kemerdekaan Indonesia, kebaya telah menjadi simbol identitas perempuan pribumi. Di masa pergerakan nasional, perempuan yang mengenakan kebaya kerap digambarkan sebagai sosok yang memiliki semangat nasionalisme dan berpendidikan.

Pada era Presiden Soekarno, citra perempuan berkebaya semakin diperkuat sebagai representasi kecantikan dan kepribadian khas Indonesia. Namun, pada periode tersebut, kebaya belum memiliki standarisasi nasional yang baku.

Dikutip dari disertasi tersebut, pemerintah tidak hanya berperan dalam mempertahankan kebaya sebagai warisan budaya. Negara secara aktif membentuknya menjadi busana nasional perempuan Indonesia melalui berbagai kebijakan kebudayaan yang strategis.