JAKARTA, JakartaHype.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempersiapkan penerapan Kawasan Rendah Emisi (Low Emission Zone/LEZ) di lima lokasi prioritas. Langkah ini diambil sebagai upaya signifikan untuk mengurangi pencemaran udara sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Ibu Kota. Kawasan Blok M di Jakarta Selatan didapuk menjadi proyek percontohan sebelum kebijakan ini diperluas ke wilayah lain.
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mengungkapkan bahwa selain Blok M, terdapat empat kawasan lain yang masuk dalam tahap awal implementasi program ini. Keempat lokasi tersebut adalah Kota Tua, wilayah perbatasan Jakarta Utara dan Jakarta Barat, kawasan Medan Merdeka–Dukuh Atas, serta kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan di Jakarta Pusat.
Pengembangan Kawasan Rendah Emisi ini mengacu pada laporan "Kawasan Rendah Emisi Terpadu Jakarta: Dari Ambisi Menuju Aksi". Laporan yang diluncurkan Pemprov DKI Jakarta bersama Breathe Cities ini menjadi dasar penyusunan strategi penerapan LEZ yang bertahap dan berbasis data.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menjelaskan bahwa laporan tersebut berfungsi sebagai peta jalan pelaksanaan program. Fokusnya tidak hanya pada pengurangan emisi dari sektor transportasi, tetapi juga mencakup pengelolaan sampah, penerapan ekonomi sirkular, efisiensi bangunan dan energi, pengendalian sektor industri, hingga penataan tata guna lahan.
Blok M dipilih sebagai lokasi pertama karena memiliki jaringan transportasi publik yang terhubung baik dan merupakan pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Karakteristik kawasan dengan fungsi campuran ini dinilai ideal untuk menguji efektivitas kebijakan sebelum diterapkan di lokasi lain.
Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Muhammad Idris, menyampaikan bahwa implementasi Kawasan Rendah Emisi dirancang berlangsung secara bertahap mulai 2026 hingga 2029 dengan pendekatan adaptif dan berbasis data. Sektor transportasi diidentifikasi sebagai penyumbang terbesar pencemaran udara di Jakarta, sehingga menjadi fokus utama kebijakan ini.
Dalam skenario paling ambisius, konsentrasi partikel halus PM2,5 diproyeksikan turun hingga 14,3 persen di kelima kawasan prioritas. Khususnya di kawasan Gelora Bung Karno, penurunan konsentrasi PM2,5 diprediksi paling signifikan, mencapai 20,7 persen.
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Abdurrahman Suhaimi, menambahkan bahwa PM2,5 adalah partikel udara sangat kecil yang berbahaya bagi kesehatan, dapat masuk ke saluran pernapasan hingga aliran darah dan memicu penyakit serius seperti kanker paru-paru jika terpapar dalam jangka panjang. Sumber utama PM2,5 meliputi emisi kendaraan bermotor, pembangkit listrik, aktivitas industri, pembakaran kayu, hingga kebakaran hutan. Peningkatan kualitas udara ini diperkirakan memberikan manfaat ekonomi sekitar Rp1,9 miliar setiap tahun melalui pengurangan beban biaya kesehatan masyarakat.
Dudi Gardesi menegaskan bahwa keberhasilan Kawasan Rendah Emisi bergantung pada penyediaan transportasi publik yang nyaman, terjangkau, dan terintegrasi. Hal ini krusial agar masyarakat bersedia beralih ke moda transportasi ramah lingkungan. Penguatan layanan angkutan umum, integrasi antarmoda, peningkatan fasilitas pejalan kaki, serta komunikasi publik akan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program ini. Dudi berharap keterlibatan seluruh masyarakat dapat mendukung terciptanya Jakarta yang lebih sehat, bersih, dan mudah diakses oleh semua warga.