JAKARTAHYPE.COM - Sorotan publik kembali tertuju pada dinamika hubungan antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Ibu Negara Brigitte Macron menyusul adanya isu baru mengenai dugaan kecemburuan sang Ibu Negara. Isu ini muncul ke permukaan setelah beredar spekulasi tentang kedekatan yang terjalin antara Presiden Macron dengan aktris ternama asal Iran, Golshifteh Farahani.

Hubungan yang diklaim sebagai 'platonic love affair' atau ikatan emosional tanpa unsur fisik tersebut menjadi titik awal munculnya dugaan pengawasan ketat yang dilakukan Brigitte. Klaim terbaru mengenai hal ini disampaikan oleh seorang jurnalis politik terkemuka dari majalah Paris Match.

Menurut Florian Tardif, seorang editor politik di Paris Match, Ibu Negara Brigitte Macron dikatakan sangat berhati-hati dalam menyeleksi setiap perempuan yang berpotensi masuk ke dalam lingkaran kerja suaminya di Istana Élysée. Hal ini menunjukkan adanya peran aktif Brigitte dalam proses administrasi personalia kepresidenan.

Tardif mengungkapkan bahwa dalam proses wawancara untuk posisi staf kepresidenan, Brigitte Macron turut mengambil peran penting dalam tahap akhir seleksi. "Ada para penasihat yang melamar posisi di Élysée. Dan dalam proses HR, wawancara terakhir dilakukan oleh Ibu Negara. Dia sangat waspada," ujarnya.

Lebih lanjut, Tardif bahkan menuduh bahwa Brigitte pernah secara langsung menolak seorang kandidat perempuan untuk posisi tertentu. Penolakan tersebut diklaim terjadi hanya berdasarkan foto kandidat yang terlihat di ponsel salah satu penasihat Presiden Macron.

Tardif mengklaim pernyataan Brigitte saat itu sangat tegas mengenai penolakan tersebut. "Dia bilang, 'Perempuan ini tidak akan masuk,'" klaim Tardif, seperti dikutip dari Paris Match.

Rumor mengenai ketegasan Brigitte ini semakin menguat setelah dikaitkan dengan sebuah video viral yang terjadi pada Mei tahun lalu saat kunjungan kenegaraan di Asia Tenggara. Video tersebut menampilkan momen ketika Brigitte terlihat mendorong wajah Emmanuel Macron sesaat sebelum keduanya menuruni tangga pesawat di Hanoi, Vietnam.

Saat pintu pesawat terbuka dan disorot media, interaksi singkat tersebut memicu berbagai spekulasi luas di kalangan warganet dan media internasional. Bahkan, Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, sempat melontarkan candaan mengenai insiden tersebut.

Pihak Istana Élysée pada saat itu segera memberikan klarifikasi atas insiden di Vietnam tersebut. Mereka menyatakan bahwa gestur tersebut hanyalah bagian dari candaan atau permainan ringan antara pasangan presiden sebelum berinteraksi dengan media.