JAKARTAHYPE.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada perdagangan hari Rabu, 3 Juni 2026. Penurunan signifikan ini terjadi setelah indeks berhasil ditutup menguat 1,11% pada hari sebelumnya.

Pada pukul 11.00 WIB, IHSG tercatat telah tergerus lebih dari 4%, gagal mempertahankan level psikologis 6.000. Data menunjukkan bahwa dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 679 saham mengalami penurunan, sementara hanya 75 yang menguat dan 205 lainnya stagnan.

Total nilai transaksi pada sesi tersebut mencapai Rp 13,14 triliun, melibatkan pergerakan 20,47 miliar saham melalui 1,56 juta kali transaksi. Akibat aksi jual masif ini, kapitalisasi pasar saham nasional ikut terpangkas hingga menyentuh angka Rp 10.454 triliun.

Sektor-sektor yang mengalami pelemahan terdalam di pasar modal adalah sektor bahan baku, kesehatan, dan utilitas. Mengutip Refinitiv, ketiga sektor tersebut mencatatkan koreksi masing-masing sebesar 9,16%, 7,15%, dan 6,9%.

Saham-saham unggulan atau konglomerat yang sebelumnya menopang kenaikan IHSG kemarin, kini justru menjadi kontributor utama pelemahan hari ini. Saham Amman Mineral (AMMN) anjlok hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) atau 14,91%, memberikan kontribusi minus 17,62 poin terhadap indeks.

Dua emiten milik Prajogo Pangestu juga memberikan beban signifikan; Barito Renewables Energy (BREN) dan Barito Pacific (BRPT) secara kolektif menyumbang pelemahan sekitar -20,75 poin bagi IHSG. Selain itu, saham bank-bank besar seperti BBCA dan BBRI juga ikut menyeret indeks dengan kontribusi masing-masing sebesar -16,39 poin dan -15,68 poin.

Kondisi ini terjadi di tengah sentimen keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia, yang dipercepat oleh efektifnya proses rebalancing MSCI per tanggal 1 Juni 2026. Padahal, sehari sebelumnya investor domestik sempat menahan laju pelemahan saat asing mencatatkan penjualan bersih Rp 1,39 triliun.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Co Founder PasarDana dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, memberikan pandangan mengenai situasi ini. "Pasca rebalancing MSCI ini bisa jadi bottom dari penurunan IHSG dan berpeluang kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan di masa depan," ujar Hans Kwee.

Hans Kwee menambahkan bahwa masih ada potensi tekanan jual, terutama pada saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Small Cap Index. "Reformasi pasar modal oleh OJK dan SRO telah berhasil meningkatkan dan memperkuat transparansi, kredibilitas, dan integrasi pasar modal Indonesia sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor lokal dan asing," kata Hans Kwee.