JAKARTAHYPE.COM - Produsen smartphone asal Tiongkok, HONOR, berhasil menarik perhatian pasar global dengan menunjukkan pertumbuhan paling pesat di luar lima besar produsen dunia saat ini. Merek yang sebelumnya merupakan bagian dari Huawei ini kini mulai menunjukkan taringnya di tengah persaingan ketat.
Menurut data terbaru dari Omdia, HONOR berhasil mengirimkan sebanyak 19,2 juta unit ponsel pintar. Pencapaian ini menempatkan mereka sebagai vendor dengan laju pertumbuhan tercepat di antara sepuluh besar produsen global.
Peningkatan signifikan ini terutama ditopang oleh strategi ekspansi agresif yang dilakukan HONOR di pasar internasional. Secara spesifik, volume pengiriman tahunan mereka di kawasan Timur Tengah dan Afrika dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat.
Namun, situasinya berbeda ketika melihat pasar domestik mereka di Tiongkok. Di negara asalnya, performa HONOR justru menghadapi tekanan signifikan akibat persaingan yang semakin ketat dengan pemain lokal lainnya.
Secara umum, pasar smartphone global dilaporkan mengalami pertumbuhan yang sangat tipis pada kuartal pertama tahun 2026. Firma Omdia mencatat total pengapalan mencapai 298,5 juta unit, hanya mengalami kenaikan 1% secara tahunan.
Berbeda dengan temuan Omdia, firma riset IDC menyajikan data yang menunjukkan adanya kontraksi di pasar tersebut. Menurut IDC, pengiriman ponsel mengalami penurunan sebesar 4,1% secara tahunan, mencapai 289,7 juta unit selama tiga bulan pertama tahun ini.
Tren penurunan juga diamini oleh Counterpoint, yang sebelumnya mencatat kemerosotan pengapalan ponsel hingga mencapai 6% secara tahunan pada kuartal I-2026. Penyebab utama dari penurunan ini adalah kendala pada rantai pasok komponen, khususnya memori DRAM dan NAND.
Dilansir dari Omdia, pertumbuhan tipis pada pengapalan ponsel global didorong oleh upaya vendor untuk mempercepat distribusi produk. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi kenaikan harga komponen dan memori yang diperkirakan akan terjadi.
Langkah percepatan distribusi tersebut berhasil membuat kinerja industri sedikit lebih baik dari proyeksi awal. Akan tetapi, tekanan ekonomi global akibat inflasi yang berkepanjangan masih menjadi tantangan besar.