JAKARTAHYPE.COM - Krisis pasokan semikonduktor global semakin menekan sektor teknologi, dengan dampak signifikan kini dirasakan oleh produsen komponen penyimpanan data. Lonjakan kebutuhan industri kecerdasan buatan (AI) menjadi pemicu utama memburuknya kondisi ini.

Dampak nyata dari kelangkaan ini terlihat pada langkah drastis yang diambil oleh raksasa teknologi asal Jepang, Sony. Perusahaan tersebut mengumumkan penghentian sementara untuk bisnis kartu memori mereka.

Sony telah menetapkan tanggal 27 Maret 2026 sebagai batas akhir penerimaan pesanan untuk hampir seluruh lini produk kartu memori SD dan CFexpress mereka. Keputusan ini diambil karena pasokan memori global dinilai tidak lagi mampu mengimbangi permintaan yang melonjak tajam.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis Sony, perusahaan menjelaskan dasar pertimbangan di balik kebijakan penghentian sementara ini. Dilansir dari Peta Pixel, Rabu (1/4/2026), Sony menyatakan, "Akibat kekurangan global semikonduktor (memori) dan faktor lainnya, diperkirakan pasokan kartu memori CFexpress dan SD tidak akan mampu memenuhi permintaan dalam waktu yang belum dapat ditentukan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk sementara menghentikan penerimaan pesanan dari dealer resmi dan pelanggan di Sony Store mulai 27 Maret 2026," tulis Sony dalam pernyataan resminya.

Dampak penghentian ini mencakup seluruh varian kartu memori andalan Sony. Ini meliputi kartu CFexpress Type A dan Type B, serta berbagai kartu SD kelas atas dan kelas bawah.

Secara spesifik, kartu CFexpress Type A dengan kapasitas mulai dari 240GB hingga 1920GB akan dihentikan produksinya. Demikian pula dengan kartu Type B kapasitas 240GB dan 480GB.

Bahkan kartu SD kelas premium seperti seri TOUGH dengan kapasitas 64GB, 128GB, dan 256GB ikut dihentikan, menandakan krisis ini menyentuh seluruh segmen pasar memori solid-state. Penghentian juga meliputi kartu SD kelas bawah seperti V30 berkapasitas 64GB dan 128GB.

Pemberitahuan dari Sony ini mengisyaratkan adanya harapan untuk melanjutkan produksi di masa mendatang, meskipun jadwal pasti kembalinya normalitas produksi belum dapat dipastikan oleh perusahaan.

Krisis memori ini utamanya didorong oleh kebutuhan masif dari pusat data yang sedang dikembangkan untuk mendukung infrastruktur AI. Permintaan yang tinggi ini menyebabkan harga komponen memori meningkat tajam akibat alokasi chip yang didominasi perusahaan pengembang AI.