JAKARTAHYPE.COM - Tas Hermes Birkin telah lama diakui sebagai lambang kemewahan tertinggi dan penanda status sosial yang eksklusif. Harga belinya yang sangat tinggi, ketersediaan yang terbatas, serta proses pembelian yang terkenal sulit, menjadikannya salah satu barang mode paling didambakan di dunia.
Namun, seiring berkembangnya budaya pamer atau flexing di platform media sosial, kini muncul layanan penyewaan untuk tas legendaris ini. Layanan ini menawarkan akses sementara terhadap kemewahan yang sebelumnya hanya bisa dimiliki.
Salah satu platform yang menawarkan layanan ini adalah Vivrelle yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Platform tersebut menetapkan biaya sewa yang signifikan untuk tas ikonik tersebut.
Platform Vivrelle mematok harga sewa sebesar US$ 800, yang setara dengan sekitar Rp 14 juta, untuk setiap peminjaman tas Hermes tipe Birkin selama satu bulan penuh. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran dalam paradigma konsumsi barang mewah.
Dilansir dari New York Post, pendiri Vivrelle, Blake dan Wayne Geffen, menjelaskan bahwa konsep penyewaan ini bertujuan mempermudah akses terhadap barang-barang mewah bagi lebih banyak orang. Mereka berpendapat bahwa fokus konsumen kini telah bergeser dari kepemilikan mutlak menuju aksesibilitas sementara.
Akan tetapi, muncul keraguan mengenai kelayakan finansial dari tren penyewaan ini. Dalam kurun waktu satu tahun, total biaya sewa yang dikeluarkan pelanggan bisa melebihi angka Rp 160 juta.
Kolektor barang vintage Hermes asal New York, Sana Roychowdhury, menyampaikan pandangannya mengenai nilai uang tersebut. "Menurut saya, dengan uang sebanyak itu, sebenarnya sudah cukup untuk membeli tas Kelly vintage yang merupakan koleksi pribadi," ujar Sana Roychowdhury.
Fenomena ini memicu perdebatan hangat di berbagai forum daring dan media sosial mengenai esensi kemewahan itu sendiri. Banyak pihak mempertanyakan apakah menyewa Birkin tidak justru mendevaluasi nilai eksklusivitas yang melekat pada tas tersebut.
Sebagian pengguna internet mengkritik bahwa tren sewa ini hanya berfungsi sebagai alat untuk menciptakan citra kemewahan palsu di dunia maya. "Saya pribadi tidak mengerti daya tariknya. Mungkin cocok untuk influencer yang ingin pamer, tapi saya lebih suka punya tas yang benar-benar milik saya sendiri," tulis salah satu netizen di Reddit.