JAKARTAHYPE.COM - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) baru-baru ini memberikan persetujuan terhadap bahan aktif tabir surya baru, sebuah langkah penting yang menandai persetujuan pertama dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

Bahan baru yang dimaksud adalah bemotrizinol, sebuah senyawa yang sebenarnya telah lama dikenal dan populer digunakan dalam formulasi tabir surya di kawasan Eropa serta Korea Selatan. Persetujuan ini diharapkan membawa peningkatan signifikan dalam efektivitas perlindungan kulit dari paparan sinar ultraviolet.

Langkah FDA ini dianggap sebagai sebuah kemajuan besar dalam inovasi produk perawatan kulit di Amerika Serikat, mengingat selama ini badan tersebut hanya mengkategorikan dua bahan sebagai aman dan efektif, yaitu zinc oxide dan titanium dioxide. Bahan-bahan tersebut umumnya ditemukan dalam kategori physical sunscreen.

Bemotrizinol, atau yang juga dikenal sebagai BEMT, merupakan senyawa kimia yang larut dalam minyak dan memiliki kemampuan teruji untuk memberikan perlindungan spektrum luas terhadap radiasi sinar UVA dan UVB. Sinar UVA berperan dalam penuaan dini, sedangkan UVB diketahui dapat merusak DNA sel kulit dan berpotensi memicu melanoma.

Dermatolog telah lama mengakui keunggulan senyawa ini dalam memberikan perlindungan menyeluruh terhadap spektrum sinar UV yang berbahaya. "Bemotrizinol sudah lama digunakan di Eropa dan para dermatologist mengetahui kemampuannya dalam memberikan perlindungan spektrum luas terhadap sinar UVA dan UVB," ujar Dr. Jessica Weiser, seorang dermatologist sekaligus pendiri Weiser Skin MD, Dikutip dari New York Post.

Para ahli menyebutkan bahwa BEMT menunjukkan profil keamanan dan efektivitas yang lebih unggul dibandingkan beberapa bahan chemical sunscreen lain yang masih dalam proses peninjauan keamanan jangka panjangnya, seperti oxybenzone. Selain itu, bahan ini juga memiliki sifat photostable, yang membuatnya tidak mudah terurai saat terpapar sinar matahari.

Dr. Weiser menambahkan bahwa bemotrizinol menawarkan perlindungan UVA yang superior dibandingkan opsi chemical sunscreen yang beredar saat ini di Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa meskipun banyak produk yang melindungi dari sunburn akibat UVB, perlindungan terhadap UVA masih terbatas, padahal sinar UVA berkontribusi besar pada munculnya pigmentasi dan kerusakan kolagen.

Perkembangan ini disambut baik oleh para profesional kulit karena selama ini pasar Amerika Serikat dinilai tertinggal dalam hal formulasi yang lebih nyaman digunakan. Dermatolog asal New York, Dr. Gary Goldenberg, menyatakan bahwa kehadiran bemotrizinol membawa angin segar. "Kita sudah terlalu lama tertinggal, sementara negara lain sudah menikmati formula sunscreen yang lebih ringan, nyaman dipakai, dan memiliki perlindungan lebih baik," ujarnya kepada Women's Health.

Selama ini, physical sunscreen yang mengandung zinc oxide dan titanium dioxide seringkali meninggalkan residu putih atau white cast pada kulit, sementara chemical sunscreen lain mungkin menimbulkan iritasi pada kulit sensitif. Meskipun demikian, para ahli menekankan bahwa konsistensi penggunaan adalah faktor terpenting dalam perlindungan kulit.