JAKARTAHYPE.COM - Jakarta tengah gencar melakukan pembenahan infrastruktur dan citra dalam ambisinya meraih predikat Kota Global saat merayakan ulang tahun ke-499. Momentum ini seharusnya menjadi perayaan pencapaian, namun penyelenggaraan Jakarta International Marathon (Jakim) 2026 justru menghadirkan perspektif lain.

Ajang lari akbar tersebut, yang diikuti oleh puluhan ribu peserta, secara tidak langsung menyoroti beberapa kerentanan dalam sistem layanan publik yang ada di jalanan ibu kota. Jakim 2026 menjadi semacam kado refleksi penting bagi pemerintah daerah.

"Ajang itu menjadi semacam kado refleksi bahwa status kota dunia tidak cukup dibangun dari panggung kosmetik wisata semata," demikian pandangan yang muncul setelah gelaran maraton tersebut usai dilaksanakan. Hal ini menggarisbawahi perlunya perbaikan mendasar di luar citra permukaan.

Setelah kompetisi usai, para pelari membawa pulang kenang-kenangan seperti medali dan jersey finisher, serta catatan waktu pribadi yang memuaskan. Banyak dari mereka yang langsung melanjutkan jadwal kompetisi lain di pekan berikutnya.

Beberapa peserta bahkan dikabarkan langsung bertolak untuk mengikuti Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 pada akhir pekan berikutnya. Selain itu, ada juga yang berpartisipasi dalam Indonesia Hyrox di kawasan PIK.

Meski kompetisi telah berakhir, diskusi mengenai pengalaman di Jakim 2026 masih hangat diperbincangkan di ranah digital. Para pelari masih mengingat detail rute yang mereka lalui selama berlari melintasi Jakarta.

Pengalaman medan berat seperti tanjakan yang menantang di kawasan Slipi dan panasnya ruas Jalan Gatot Subroto menjadi memori yang sulit dilupakan peserta. Beberapa area spesifik lain yang menjadi sorotan adalah kawasan DPR/MPR dan tanjakan Mampang.

Para peserta menggambarkan kondisi di beberapa titik tersebut sebagai pengalaman yang cukup menguji ketahanan fisik dan mental mereka selama lomba berlangsung. Hal ini menjadi bahan evaluasi penting bagi penyelenggara di masa mendatang.

Dilansir dari berbagai diskusi publik, rute yang dianggap ekstrem tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi pengalaman lari di ibu kota. Hal ini menunjukkan tantangan nyata yang dihadapi pelari di tengah upaya Jakarta bersolek menjadi kota kelas dunia.