JAKARTAHYPE.COM - Timur Tengah sempat menjadi magnet bagi perusahaan teknologi global yang berambisi membangun pusat data (data center) untuk mendukung kebutuhan kecerdasan buatan (AI) yang terus meningkat. Infrastruktur digital ini kini dianggap sebagai aset krusial yang setara dengan "harta karun" baru di era digitalisasi saat ini.
Investasi bernilai miliaran dolar Amerika Serikat telah dialokasikan untuk pengembangan proyek-proyek data center di berbagai negara kawasan tersebut, sejalan dengan visi regional untuk menjadi pusat teknologi global. Namun, dinamika geopolitik yang memanas akibat peran Iran telah menimbulkan hambatan signifikan terhadap rencana ambisius ini.
Salah satu perusahaan pengembang data center terkemuka dilaporkan mengambil langkah menunda realisasi investasi infrastruktur AI dan data center di Timur Tengah. Penundaan ini terjadi seiring dengan berlanjutnya ketegangan dan konflik di wilayah tersebut, sebagaimana diinformasikan oleh CNBC International pada Rabu, 29 April 2026.
Kenaikan tajam harga minyak dan gangguan rantai pasok komponen akibat konflik kawasan membuat masa depan proyek infrastruktur digital skala besar di Timur Tengah menjadi sangat tidak pasti. Aset-aset fisik di wilayah tersebut kini menghadapi risiko menjadi sasaran militer, sementara kelangkaan bahan baku penting untuk pembangunan infrastruktur AI turut mengintai.
Secara spesifik, sebuah fasilitas data center di Abu Dhabi, yang dikelola oleh Pure DC milik Oaktree, dilaporkan terkena dampak serangan berupa serpihan proyektil dari eskalasi konflik Iran. Dampak langsung ini menjadi peringatan keras bagi investor mengenai risiko operasional di kawasan tersebut.
Gary Wojtaszek, CEO Pure DC, menyampaikan bahwa situasi ini memaksa perusahaan untuk menangguhkan seluruh rencana investasi data center mereka. Ia menekankan bahwa iklim keamanan saat ini tidak kondusif untuk pengembangan teknologi yang membutuhkan modal besar.
"Tidak ada yang mau membangun data center dan menyematkan GPU baru hingga kondisi ini berakhir," ujar Gary Wojtaszek kepada CNBC International.
Wojtaszek menambahkan bahwa situasi saat ini menciptakan lingkungan yang sangat berisiko bagi operasional berkelanjutan. "Tidak ada yang ingin menjalankan bangunan kebakaran," katanya menegaskan.
Perlambatan investasi ini terjadi setelah pemerintah dan perusahaan hyperscaler di Timur Tengah telah mengucurkan dana besar, memanfaatkan ketersediaan energi dan lahan yang relatif murah untuk memposisikan diri sebagai pemain utama dalam ledakan AI global.