JAKARTAHYPE.COM - Pakistan kini tengah memainkan peran geopolitik baru yang tak terduga dengan memanfaatkan mata uang kripto sebagai instrumen diplomatik yang efektif di kancah internasional. Langkah ini menunjukkan adaptasi Islamabad terhadap dinamika politik global yang berubah cepat.

Pusat dari strategi ini adalah sosok teknolog muda bernama Bilal bin Saqib, yang diklaim berhasil membangun saluran komunikasi rahasia menuju lingkaran terdekat Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump. Kedekatan ini menjadi kunci pembuka pintu diplomasi baru.

Saqib disebut memiliki koneksi kuat melalui World Liberty Financial, sebuah platform keuangan digital yang kabarnya juga memiliki keterlibatan dengan keluarga Trump. Kedekatan ini membuka peluang lobi yang signifikan bagi Pakistan.

Lebih jauh, Islamabad telah mengukuhkan kerja sama dengan afiliasi perusahaan tersebut untuk mengembangkan sistem pembayaran digital yang melintasi batas negara. Ini menjadi langkah nyata dalam mengintegrasikan kripto ke dalam infrastruktur keuangan mereka.

Pendekatan unik ini oleh para analis dijuluki sebagai 'biplomacy', sebuah inovasi yang mengawinkan teknologi blockchain dengan strategi hubungan internasional konvensional. Strategi ini terbukti efektif di era politik yang mengutamakan koneksi personal.

Menurut sebuah laporan, penggunaan diplomasi kripto oleh Pakistan, atau yang disebut Saqib sebagai 'biplomacy' menggunakan Bitcoin, telah memperkuat hubungan yang sedang tumbuh antara Trump dan Kepala Angkatan Darat Pakistan saat itu, Munir, dilansir dari Business Recorder, Rabu (1/4/2026).

Selain menjadi penghubung ke Washington, peran Saqib juga meluas dalam menghubungkan Pakistan dengan tokoh penting global seperti Changpeng Zhao. Ia juga disebut turut andil dalam penyusunan kerangka kerja sama dagang antara kedua negara.

Hasil dari manuver diplomatik berbasis kripto ini mulai membuahkan buah manis, termasuk perolehan sejumlah konsesi dagang dan meningkatnya minat dari investor asing. Hal ini membuka peluang kolaborasi di sektor energi hingga teknologi.

Meski demikian, strategi ambisius ini tidak bebas dari bayang-bayang risiko, terutama mengingat Pakistan masih terikat kewajiban utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF) yang dikenal sangat berhati-hati terhadap adopsi aset kripto oleh negara.