JAKARTAHYPE.COM - Perusahaan multinasional Jepang, Ajinomoto, yang selama ini identik dengan penyedap rasa monosodium glutamat (MSG), kini menjadi pusat perhatian pasar modal global. Sorotan tersebut bukan lagi berpusat pada bisnis kuliner mereka, melainkan pada posisi strategisnya dalam ekosistem teknologi kecerdasan buatan (AI).

Investor aktivis asal Inggris, Palliser Capital, mengungkapkan bahwa mereka telah mengakumulasi saham di Ajinomoto. Mereka meyakini perusahaan ini memegang posisi yang mendekati monopoli dalam penyediaan material krusial bagi infrastruktur AI, namun potensi keuntungannya belum dimaksimalkan.

Selain Ajinomoto, Palliser Capital juga melirik perusahaan Jepang lain seperti Toto, yang terkenal dengan produk sanitasi. Toto dinilai serupa karena memproduksi material keramik khusus yang esensial bagi pembuatan chip canggih, dan keduanya dianggap bernilai kurang (undervalued) di tengah euforia AI.

Ajinomoto membangun citranya dari penemuan rasa umami yang kemudian dikomersialkan menjadi MSG. Namun, di balik dapur bumbu, perusahaan ini mengoperasikan divisi material fungsional yang ternyata menjadi tulang punggung industri semikonduktor modern.

Material kunci yang dimaksud adalah Ajinomoto Build-up Film (ABF), sebuah lapisan isolasi khusus. ABF ini sangat vital karena berfungsi sebagai substrat, yakni lapisan penghubung antara chip dengan perangkat elektronik melalui jaringan sinyal yang sangat padat.

Tanpa ketersediaan ABF dari Ajinomoto, banyak jenis chip tercanggih yang dibutuhkan oleh teknologi AI saat ini mustahil untuk diproduksi secara massal. Posisi dominan ini membuat Ajinomoto memiliki daya tawar yang besar.

Melihat dominasi strategis ini, Palliser Capital berpendapat bahwa Ajinomoto seharusnya berani menaikkan harga material tersebut secara drastis. Mereka bahkan mendesak agar harga ABF dapat dinaikkan lebih dari 30% dari harga saat ini.

Palliser Capital meyakini bahwa kenaikan harga tersebut tidak akan memberatkan pelanggan akhir, sebab kontribusi biaya ABF terhadap harga jual chip seperti GPU sangat minim, yaitu kurang dari 0,1% saja.

Namun, Ajinomoto memilih untuk mengambil langkah yang lebih konservatif dan berhati-hati dalam merespons tekanan investor tersebut. Pihak perusahaan menyatakan bahwa masukan investor akan tetap dipertimbangkan, tetapi fokus utama mereka adalah pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.